• about me

    yoggy pradita 21 november 1988 tebing tinggi, north sumatra, indonesia a bad boy playing soccer reading and writing get some potatos take a sleep watching tv (news only) drink some milk everyday fish lovers no animals!! playboy myright hand was broken a ex-goalkeeper internazzionalle milano fc. arsenal medan, padang, bandung, semarang swiss, germany and spain motorcycle and hardtop cars,, smoke and beer donuts and coffe organization institut management of telkom enough,,, thanks for reading my text,,
  • nice year!!

    January 2009
    S M T W T F S
        Mar »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Archives

  • yoggy’s playlist

  • Flickr Photos

    Magic moment

    Station..

    December

    SydneyOnACloudyDay :)

    Hartville

    Dhaka, Bangladesh

    Kingfisher (Alcedo atthis)

    100+ Followers!

    Otoño II

    Ponte Estaiada da Barra da Tijuca - Rio de Janeiro

    More Photos

Spiral Kepemimpinan

Kesuksesan sebagai sebuah refleksi mempunyai 3 kaki penopang yaitu, satu: adalah persiapan, bahwa hidup kita ini selalu diwarnai dengan proses belajar, bukan hanya formal education, namun informal education. Formal education itu adalah anda belajar materi tertentu, di uji dan lulus, namun dalam informal education banyak sekali orang yang tidak menyadari potensinya, misalnya dalam bekerja seringkali muncul perkataan dalam hati: “ya … kerjaan apa itu”. Menganggap remeh segala sesuatu, padahal pada office boy pun kita bisa belajar apa saja. Dalam melakukan persiapan ini ada beberapa hal yang diperlukan yaitu kita perlu menyadari bahwa setiap apapun yang kita kerjakan mengandung makna, ada nilai spiritual dalam pekerjaan itu, misalnya jika anda menggunakan kasih sayang dalam masakan itu pasti hasilnya jauh lebih baik. Jadi apapun tugas anda, menyadari bahwa itu adalah karunia yang perlu disyukuri dan dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Kemudian; mengembangkan networking, dalam arti yang paling penting adalah mengembangkan persahabatan ke segala arah baik ke atasan, bawahan, atau lingkungan sekitar.
Kedua adalah opportunity-kesempatan yang bisa muncul dari mana saja, baik eksternal maupun internal sebagai hasil dari observasi dari pengamatan kita, creatifitas kita. Sebuah ilustrasi menarik tentang dunia kampus adalah SDM diciptakan untuk mencari kerja, mengapa bukan pencipta kerja, kedua hal ini tentu sangat berbeda.
Dan ketiga adalah keberanian.kenapa orang itu berani dan tidak berani karena ada rasa tidak aman, dan kadang hal itu tidak benar. Ini berasal dari kata FEAR yaitu F = Fault, E = Evidence, A = Appearing, R = Reality, rasa takut adalah sesuatu yang seolah-olah terjadi dan ini menghambat sistem kepercayaan kita. Contoh: jika kita akan naik pesawat dengan cuaca yang sangat mendung, sebagai manusia tentu akan muncul rasa takut, dalam hati terdengar bisikan “jangan-jangan … ???”. Padahal jika kita terbang dan menembus awan sekitar 10 menit saja, cuaca berubah menjadi cerah. Seringkali terlalu banyak pertimbangan malah membuat kita takut melangkah.
Dalam dunia KEPEMIMPINAN, kesuksesan dapat diukur dari beberapa faktor yaitu, pertama: OUTPUT, yaitu seberapa besar output/ keuntungan yang dihasilkan oleh leader bagi perusahaan. Kedua: PROSES, yaitu bagaimana jalan mencapai output. Seorang leader “memuaskan” para stakeholders, karena hasil datang dari stakeholders, misalnya pemegang saham, karyawan, mitra bisnis. Sebab seringkali terjadi dalam mengejar keuntungan, leader merugikan salah satu dari stakeholder, dan tentu saja hasil tersebut tidak akan bertahan lama karena para stakeholders yang dirugikan itu akan melakukan counter attack. Ketiga adalah: INPUT, seorang leader harus dapat memilih dan mencari input-input yang bagus, apakah input itu berupa material, orang, atau yang lainnya, karena pada akhirnya keberhasilan proses sangat tergantung pada input-input yang ada. Bagaimana mungkin outputnya akan bagus jika anggota tim yang terlibat dalam proses mencapai output tersebut tidak memiliki kemampuan, tidak dapat diandalkan, dan lain-lain.
Oleh karena itu, perlu upaya membangun sebuah pondasi yang kuat dalam memahami dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan sebagai usaha menuju spiral pertumbuhan dalam kehidupan. Sebuah penggambaran dan analisis menarik disampaikan oleh Stephen Covey bahwa: Kepemimpinan itu bermula dari diri kita, kita harus menjadi seorang pemimpin pribadi, dengan prinsip bahwa setiap individu adalah pemimpin dan tentunya banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut, kemudian kita menjadi pemimpin antar pribadi, di mana pada tahap ini seseorang harus hidup dalam masyarakat dan dalam mengembangkan kepemimpinannya setiap orang harus dapat membangun kepercayaan dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam hal ini, seseorang terlebih dahulu harus mengenal karakteristik kepercayaan itu. Kepercayaan itu sulit untuk dibangun, dan membutuhkan waktu yang panjang untuk membangun kepercayaan. Hal ini terkadang membuat kita tidak sabar, lalu mengatakan: “masa sih anda tidak percaya saya”. Persoalannya adalah bukan pada percaya atau tidak percaya tetapi apakah anda sudah membuktikan bahwa anda dapat dipercaya. Dan pembuktian tersebut datang dari keyakinan bahwa saya layak dipercaya. Maka kita bersandar lagi pada sistem kepemimpinan pribadi. Satu contoh sederhana ketika kita memperoleh pekerjaan dan kita mengatakan, “Masa sih saya sudah sarjana (S1, S2, S3) dapat pekerjaan seperti ini saja”. Sebenarnya persoalannya terletak pada bagaimana anda dapat membuktikan, sebab jika anda sudah setia pada pekerjaan kecil maka perlahan-lahan yang besar akan datang, bukan sebaliknya.
Tahap kepemimpinan selanjutnya disebut kepemimpinan manajerial. Sebagai seorang pemimpin yang memiliki anak buah, maka prinsipnya adalah bagaimana melakukan pemberdayaan pada anggota tim, sebab semakin tinggi kemampuan anggota tim maka semakin tinggi pencapaian target atau hasil yang diinginkan. Kekuatan sebuah tim sangat ditentukan oleh pembentukan sense of purpose sebagai suatu roh, sebab setiap orang membawa harapan masing masing. Jika sebuah tim kehilangan roh, maka akan terbentuk task force, masing-masing orang membawa keahlian dalam bekerja. Dalam skala tertentu task force pun membutuhkan roh.
Hubungan atau keterlibatan dalam dinamika tim tidak bisa menggunakan arogansi kekuasaan, sebab itu yang paling utama ditanamkan adalah kepercayaan. Jika orang sudah merasa dipercaya, hubungan formal berubah menjadi nonformal dalam batas tertentu. Karena itu leader yang baik adalah leader yang memenangkan hati timnya, ketika hatinya dimenangkan maka head-nya baru dibuka, yaitu ke mana tim ini akan bergerak.
Dan terakhir adalah ketika kita mendapat promosi, misalnya menjadi manajer finance, HRD, accounting, dan lain-lain, maka kita akan masuk ke dalam tahap kepemimpinan organisasional. Tidak hanya dituntut atau cukup dengan melakukan pemberdayaan saja, tetapi anda harus melakukan penyelarasan, ibarat dalam sebuah barisan tidak ada yang akan ke kiri, ke kanan, atau tarik-tarikan, tapi semua bergerak dengan satu irama yang sama, menuju arah yang sama.
Bagaimanapun, keempat level pemimpinan tersebut membutuhkan 2 persyaratan, yaitu memimpin dengan Head dan memimpin dengan Heart sehingga akan membentuk Hand yang akan memberdayakan seluruh potensi organisasi.
Sebagai bahan refleksi sudahkah anda merenungkan seberapa jauh dan efektifkah kepemimpinan kita hari ini?

One Response

  1. sungguh sangat mem bantu materi diatas dalam merealisasikan kehidupanq dan thank ya ats materix,mudahan2 bisa disearce lg ya ke email aq.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: