• about me

    yoggy pradita 21 november 1988 tebing tinggi, north sumatra, indonesia a bad boy playing soccer reading and writing get some potatos take a sleep watching tv (news only) drink some milk everyday fish lovers no animals!! playboy myright hand was broken a ex-goalkeeper internazzionalle milano fc. arsenal medan, padang, bandung, semarang swiss, germany and spain motorcycle and hardtop cars,, smoke and beer donuts and coffe organization institut management of telkom enough,,, thanks for reading my text,,
  • nice year!!

    January 2009
    S M T W T F S
        Mar »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Archives

  • yoggy’s playlist

  • Flickr Photos

    Magic moment

    Station..

    December

    SydneyOnACloudyDay :)

    Hartville

    Dhaka, Bangladesh

    Kingfisher (Alcedo atthis)

    100+ Followers!

    Otoño II

    Ponte Estaiada da Barra da Tijuca - Rio de Janeiro

    More Photos

Pemberdayaan

Kalimat pengantar yang mengalirkan suasana menyenangkan di pagi hari, membuat kita mengalami dan merasakan keindahan waktu. Orang biasanya bertanya, “Kok semangat pagi sih? Kenapa bukan selamat pagi?” Walaupun sebenarnya klise, tetapi kata semangat adalah internal state kita, bahwa kitalah yang mengatur cuaca hati kita, sehingga kita bertanggung jawab terhadap pilihan untuk lebih berenergi, dan siap dalam menyongsong hari. Bagaimana? Apakah anda sudah bisa merasakan perbedaannya? Jadi apapun yang terjadi, apakah itu macet, hujan, banjir, dan lain-lain kita akan tetap bersemangat.
Berbicara tentang kepemimpinan adalah sesuatu yang menarik. Semua dapat kita lihat dan rasakan dalam kehidupan pribadi, organisasi, dan profesional. Ada beberapa hal yang menjadi alasan. Alasan pertama adalah bahwa kepemimpinan memegang posisi sentral. Apapun yang kita lakukan sebagai seorang leader, jika kita melakukan mismanagement, tentu saja akan mempunyai dampak dan konsekuensi yang besar. Kedua, kepemimpinan juga adalah sesuatu yang bisa ditularkan, beberapa orang kurang menyadari bahwa secara individu mereka adalah seorang pemimpin. Itulah sebabnya mengapa Steven Covey memulai filosofi kepemimpinan dari Kepemimpinan Pribadi, Kepemimpinan Interpersonal, Kepemimpinan Manajerial, dan baru Kepemimpinan Organisasional.
Moment saat ini adalah tepat untuk memberikan refleksi tentang apa yang dinamakan dengan PEMBERDAYAAN, sesuatu yang tentunya tidak asing lagi bagi para leader. Mengapa hal ini begitu penting untuk dipertanyakan adalah karena PEMBERDAYAAN merupakan salah satu aspek yang menentukan kualitas kepemimpinan seseorang pada tingkatan Kepemimpinan Manajerial.
Kemampuan untuk melakukan pemberdayaan pada orang lain atau anggota tim (dalam struktur) adalah suatu bentuk kesadaran bahwa kita tidak dapat melakukan pekerjaan sendiri. Dengan kata lain bahwa semakin tinggi pemberdayaan yang terjadi maka tingkat pencapaian hasil/kinerja dalam suatu organisasi akan semakin baik. Dalam suatu kalimat dikatakan bahwa kekuatan sebuah rantai bukan terletak pada mata rantai yang terkuat, tapi justru terletak pada mata rantai yang terlemah. Pada konteks tersebut, pemberdayaan dilakukan sebagai bobot untuk melahirkan ikatan/kohesi yang kuat dari proses memberikan energi secara internal pada setiap ikatan yang ada. Hal ini tentu saja sangat beralasan. Sebagai seorang leader kita perlu menyadari bahwa setiap anggota tim memiliki kemampuan yang berbeda. Prinsip ini selaras dengan prinsip managing business is managing people.
Ada beberapa hal yang perlu diobservasi dalam konteks pemberdayaan. Pertama, skala pekerjaan, yang artinya sebagai seorang leader kita tidak boleh memandang sama setiap pekerjaan. Kedua, base competence, yang artinya seorang leader perlu memastikan kemampuan dasar dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal ini diperlukan agar leader dapat mempertemukan tugas dan kemampuan seseorang. Ketiga, karakter yang berarti jika seorang anggota tim sudah menjalankan pekerjaannya, maka yang dipandang bukan kemampuannya lagi tetapi lebih ke arah karakter. Contoh, jika seorang anggota tim berjanji menyelesaikan pekerjaan dalam 2 hari dan ternyata tidak selesai, persoalannya bisa saja bukan dari sisi ketidakmampuan tetapi lebih pada masalah ketidakdisiplinan.
Tentu saja banyak contoh yang dapat kita bicarakan, misalnya bagaimana seorang leader menghadapi seorang anggota tim yang sebenarnya memiliki kemampuan baik, tetapi tidak dapat diandalkan, dan memiliki komitmen rendah. Maka pertama-tama kita perlu melakukan coaching dengan asumsi untuk mengetahui kenapa tingkat produktivitasnya menurun, dan ini perlu diketahui. Keinginan kita untuk ”membantu” karyawan tersebut (tidak menggunakan pendekatan formal) sesungguhnya adalah upaya untuk mengeluarkan/meledakkan potensi diri karyawan tersebut. Sebab kata dasar dari pemberdayaan adalah EMPOWER, E M adalah M yang berarti ME, dan P adalah POWER yang berarti kekuatan, jadi EMPOWER bermakna bahwa di dalam diri seseorang terdapat kekuatan. Dan untuk dijadikan refleksi, … tidak banyak leader yang mengerti bagaimana mengeluarkan potensi anggota timnya atau bawahannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: