• about me

    yoggy pradita 21 november 1988 tebing tinggi, north sumatra, indonesia a bad boy playing soccer reading and writing get some potatos take a sleep watching tv (news only) drink some milk everyday fish lovers no animals!! playboy myright hand was broken a ex-goalkeeper internazzionalle milano fc. arsenal medan, padang, bandung, semarang swiss, germany and spain motorcycle and hardtop cars,, smoke and beer donuts and coffe organization institut management of telkom enough,,, thanks for reading my text,,
  • nice year!!

    January 2009
    S M T W T F S
        Mar »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Archives

  • yoggy’s playlist

  • Flickr Photos

    Magic moment

    Station..

    December

    SydneyOnACloudyDay :)

    Hartville

    Dhaka, Bangladesh

    Kingfisher (Alcedo atthis)

    100+ Followers!

    Otoño II

    Ponte Estaiada da Barra da Tijuca - Rio de Janeiro

    More Photos

Intelektual : Identik dengan gelar

bagi sebagian orang di Indonesia, tersirat sebuah pemikiran bahwa semakin tinggi atau banyak gelar yang didapat seseorang, maka semakin inteleklah orang tersebut
pemikiran tersebut secara prinsip harusnya benar. pendidikan adalah sarana utama pencerahan pola pikir-kepekaan hati-ketajaman memandang persoalan secara komprehensif dan lateral. tidak salah, orang-orang di Indonesia berlomba-lomba mencari gelar, bahkan semakin cepat dan banyak gelar yang didapat, merasa semakin hebatlah seseoreng tersebut.

Ilmu pengetahuan adalah implementasi. ketika berada pada tataran teori, ilmu tersebut pasif. justru keaktifan ilmu pengetahuan tersebutlah yang layak dipertanggungjawabkan. konon, ada salah satu partai politik di Indonesia yang mengajukan syarat untuk duduk di pemerintahan gelar minimal Doktor (S3). Efektifkah?!
Indonesia adalah gudang orang bergelar, bukan berilmu. lepas dari ‘bagaimana’ cara memperolehnya.

ada ungkapan yang menarik dariGottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) dan Sir David Hume (1711-1776), yang mengatakan bahwa “SUMBER PENGETAHUAN YANG SEJATI ADALAH AKAL BUDI”. ditambah lagi oleh Hume, manusia tidak serta mertamengenal alam semesta ketika ia berpengetahuan. ada FAKTOR PENGALAMAN yang dominan (Impressions dan Ideas).

Menarik lagi, ketika seorang filsuf dari Prussia, Immanuel Kant, yang menulis Kritik atas Budi Murni, yang mempunyai 3 tahapan, yaitu:
1. Pada tingkat pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung).
pengetahuan merupakan sintesis yang ada sebelum pengalaman, yaitu a priori dengan unsur-unsur yang ada setelah pengalaman, yaituaaposteriori.
implikasi dari pernyataan tersebut, bahwa memang ada realitas terlepas dari subjek.
2. Pada tingkat akal budi (Verstand).
bersamaan dengan pengamatan indrawi, bekerjalah akal budi, yaitu menyusun dan menghubungkan data-data indrawi, sehingga menghasilkan putusan-putusan. dalam hal ini, akal budibekerjadengan bantuan daya fantasinya.
tetapi putusan ini belum merupakan pengetahuan akal budi, karena pengetahuan akal budi diperoleh ketika terjadi sintesis antara data-data indrawi tadi dengan bentuk-bentuk a priori (kategorie) Kategorie yang dimaksud adalah: kuantitass (kesatuan, kejamakan,keutuhan), kualitas (realitas, negasi, pembatasan), relasi (substansi dan aksidens, sebab dan akibat, interaksi), modalitas (mungkin/mustahil, ada/tiada).
3. Pada tingkat Budi atau Intelek (Vernunft)
yang dimaksud Kant dengan Budi atau Intelek (Vernunft) adalah daya pencipta pengertian-pengertian murni atau pengertian-pengertian yang mutlak perlu, yang tidak diperoleh dari pengalamanmelainkan mengatasi pengalaman-pengalaman itu sendiri. Tugas Intelek adalah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat di bawahnya, yakni tingkat akal budi (Verstand) dan tingkat pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung).

Jadi, seseorang dikatakan masuk dalam tataran Intelek, tidak serta merta begitu saja, karena banyak gelar atau gelar yang tinggi.
Jika implementasi seseoreng tersebut tidak bisa mempertanggungjawabkan keilmuannya, maka patut dipertanyakan, -bukan lagi apakah seseorang tersebut Intelek, tetapi ‘darimana’ dan ‘bagaimanakah’ orang tersebut bisa mendapat gelar yang disandangnya?

4 Responses

  1. ckckckckckck
    analisis lo dangkal bgt y!!
    jangan cuma ngopi teori aj mas
    solusiny ap biar orang g meng-hasty generalization-kan gelar dengan intelektualitas seseorang
    jgn seperti orang indonesia kebanyakan
    cuma bs ngritik doang
    tp g mencoba memperbaiki keadaan
    itu sama aj bullshit
    hmmmmmmmppphhh
    musti bny blajar lo
    jgn terlalu sombong
    Tuhan g terlalu suka sama hal-hal yang berlebihan cuyy,,

  2. terserah anda untuk mengkritik saya,, namun itu kritik yg baik buat saya,, dan terima kasih,,

    mungkin anda perlu belajar sopan santun dan mngkin kita perlu berkenalan terlebih dahulu,, bahasa indonesia anda juga kurang baik menurut saya,, pernah sekolah kan??

    anda TUHAN??

  3. hahahahahhaa
    anda lucu skali
    saya yakin bahasa indonesia anda juga blom bnar
    Dan tolong di baca lagi comment saya,,yang bilang saya tuhan siapa??
    ckckckckckkckckck,,,,
    haaaaahh,,,susah memang klo pemikiran anda tidak sampai kesitu
    trima kasih

  4. trims atas komentar dan sarannya,, semoga sangat berguna buat saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: