• about me

    yoggy pradita 21 november 1988 tebing tinggi, north sumatra, indonesia a bad boy playing soccer reading and writing get some potatos take a sleep watching tv (news only) drink some milk everyday fish lovers no animals!! playboy myright hand was broken a ex-goalkeeper internazzionalle milano fc. arsenal medan, padang, bandung, semarang swiss, germany and spain motorcycle and hardtop cars,, smoke and beer donuts and coffe organization institut management of telkom enough,,, thanks for reading my text,,
  • nice year!!

    December 2016
    S M T W T F S
    « Oct    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Archives

  • yoggy’s playlist

  • Flickr Photos

    Magic moment

    Station..

    December

    SydneyOnACloudyDay :)

    Hartville

    Dhaka, Bangladesh

    Kingfisher (Alcedo atthis)

    100+ Followers!

    Otoño II

    Ponte Estaiada da Barra da Tijuca - Rio de Janeiro

    More Photos

on sale…

9416_1094774544286_1674261442_185027_2611857_n9416_1094774504285_1674261442_185026_4051425_n9416_1094774424283_1674261442_185024_7439307_n9416_1094774384282_1674261442_185023_2121306_n

entrepreneurship (wirausaha)

Wirausaha :”Entrepreneur as the person who destroys the existing economic order by introducing new products and services, by creating new forms of organization, or by exploiting new raw materials” by Joseph Schumpeter
• Wirausaha :
Orang / kelompok yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru
MACAM PROFIL WIRAUSAHA

picture1

 WOMEN ENTREPRENEURS
 Memperlihatkan kemampuan prestasinya
 Membantu ekonomi rumah tangga
 Mengisi waktu
 MINORITY ENTREPRENEURS
 Didasari perasaan senasib
 Jumlah yang sedikit, persaudaraan kuat
 Meneruskan leluhur/ turun-temurun
 (Contoh : suku Madura di Kalimantan, dsb)
 IMMIGRANT ENTREPRENEURS
 Kaum pendatang memulai dengan bisnis yang berciri khas
 Dimulai dari kelompok-kelompok kecil
 Contoh: (RM Padang, Pangkas Rambut-Madura, Tukang Gordyn-Sunda, dsb)
 PART TIME ENTREPRENEURS
 Mengisi waktu luang
 Hobby
 Menambah penghasilan tambahan dari yang sudah ada
 HOME BASED ENTREPRENEURS
 Didasari kemampuan berkarya
 Didasari kesenangan/ hobby
 Contoh : Catering Services
 FAMILY OWNED BUSINESS
 Perusahaan keluarga
 Warisan leluhur
 COPRENEURS,are entrepreneurial couples who work together as co-owners of their businesses pembagian pekerjaan didasarkan atas keahlian masing-masing orang sekaligus pertanggungjawaban produk/ divisi
SIFAT-SIFAT YANG PERLU DIMILIKI WIRAUSAHAWAN
1. Percaya Diri :
 Kepercayaan (keteguhan)
 Ketidaktergantungan
 Optimisme
2. Berorientasikan Tugas dan Hasil :
 Kebutuhan/ haus akan prestasi
 Berorientasi laba
 Tekun dan tabah
 Energik,penuh inisiatif
3. Pengambil Resiko :
 Mampu dan berani mengambil resiko
 Menyukai tantangan
4. Kepemimpinan (Leadership):
 Mampu memimpin
 Dapat bergaul dengan orang lain
 Menanggapi saran dan kritik
5. Keorisinilan :
 Inovatif (pembaharu)
 Kreatif
 Fleksibel
6. Berorientasi ke masa depan :
 Berpandangan kedepan
 Perseptif
7 Ciri Identitas Wirausaha
(Fadel Muhammad)
1. Kepemimpinan
2. Inovasi
3. Cara Pengambilan Keputusan
4. Tanggap Terhadap perubahan
5. Ekonomis dan Efisien
6. Visi masa depan
7. Sikap terhadap resiko
KONSEP 10 D
by Bygrave
1. DREAM : Bagaimana mewujudkan mimpi atau angan-angannya
2. DECISIVENESS : Kecepatan dan ketepatan mengambil keputusan adalah faktor kunci kesuksesan bisnisnya
3. DOERS : Tidak menunda-nunda kesempatan yang dapat dimanfaatkan
4. DETERMINATION : Tanggung jawab tinggi, walau dihadapkan halangan dan rintangan.
5. DEDICATION : pengorbanan yang tinggi untuk kesuksesannya
6. DEVOTION :Kegemaran yang dapat mendorong keberhasilannya
7. DETAILS : Memperhatikan faktor-faktor kritis secara rinci
8. DESTINY : Bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yang hendak dicapainya
9. DOLLARS : Motivasi bukan uang,uang dianggap sebagai ukuran kesuksesan bisnisnya
10. DISTRIBUTE : Mendistribusikan kepemilikan bisnisnya terhadap orang-orang kepercayaannya
KEPRIBADIAN
(Personality)
 By Personality I understand the totality of inherited aquired psychic qualities which are characteristic of one individual and which make the individual unique
 Kepribadian adalah merupakan keseluruhan kualitas psikis yang diwarisi atau diperoleh yang khas pada seseorang yang membuatnya unik
(Erich Fromm)
 PERSONALITY
Person = Persona ; a theatrical mask
Person = person behind mask
Personality = The total of human mind
Mind = Keseluruhan karakteristik dari diri seseorang,bisa berbentuk pikiran,perasaan,kata hati, temperamen, watak (karakter)
KEPRIBADIAN PRODUKTIF
 PRODUKTIF : Kegiatan yang menimbulkan kegunaan (utility),
 Beberapa macam utility :
1. Utility of Place
2. Utility of Time
3. Utility of Form
4. Utility of Ownership/ Possesion
DUA DIMENSI POKOK
SOCIAL RESPONSIBILITY
1. Skill of Spontaneity :
 Qualities of Spontaneity
 Friendliness
 Tolerance
 Open Relationship
2. Value Structure :
 Deep empaty
 Concern for Others
Ciri-ciri Pribadi Yang Matang :
1. Tidak tergantung kepada Orang Lain
2. Memiliki Rasa Tanggung Jawab
3. Emosi Stabil
4. Obyektif dan Kritis (tidak mudah terpengaruh issue)
5. Sociability
6. Keyakinan Agama
TEMPERAMEN
(Hippocrates) :
1. Choleric = api,panas, cepat dan kuat
= easily angered = gampang marah
2. Sanguine = udara, panas, lembab, cepat dan lemah = over estimated = terlalu optimis
3. Melancholic = bumi,dingin, kering,lemah dan kuat serta pendiam = depressed
4. Phlegmatic = air,dingin, lembab dan lemah = too slow
“Temperamen menunjukkan cara bereaksi yang bersifat tetap, akan selalu diimbangi dengan watak”
Watak / Character
Character is defined as the pattern of behavior characteristic for a given individual (Leland E. Hinsie,Jacob Satzky)
Menurut ahli psikologi behavioristik ; sifat-sifat watak dapat disamakan dengan sifat tingkah laku (behavior)
Menurut Socio-psycologist ; manusia selalu berhubungan dengan sesamanya, dengan alam, dan dengan dirinya sendiri
Inti dari watak adalah orientasi

kehidupan pribadi,,, curcol!!

yahh perjalan hidup itu panjang yahh,, walau banyak orang bilang hidup itu singkat, tapi buat aku, hidup itu belajar, dan banyak pengalaman, namun satu yg masih kurasa kurang nih, kurang berani untuk berubah dan MALAS!!.

aku sejenak mau ngulang masa2 SMA aku di SMA N 1 Medan, sekolah yang punya kualitas kelas wahid, dan punya banyak kenangan juga disana,, ohh god thx for your destiny,,

25112005004

tim kelas 3 ipa 9 yang jagoan maen bola,, dan olahraga la khususnya, 2 kali juara dalam 1 tahun, dan rata2 anggota timnya masuk tim inti sekolahan, termasuk aku, jadi kiper tim utama, alhamdulillah,, teman2 mari kita berkumpul lagi danbermain sepak bola lagi,,,

mnang-cepek-euuyy

waktu itu iseng diajakin maen bola di komplek perumahan avros sama orang tuanya usi, ngelawan buruh pabrik sih kyknya, badannya keras2 euy, hahaha,, walau kalah tipis, tapi dikasi hadiah juga sama babenya usi, lumayan lah buat makan2 ama anak2,, yg penting mah ngumpul kata mereka,, hahahah

_yyyeeeaaahh_070

wah,, ini nih pengalam pertama jadi supir jarak jauh di sumatra utara,, ke sungai antah berantah,, bareng ama temen2,, piknik section deh pokoke,, pake mobil boyke, minjem mobil om nya,, trus bawa makanan dari rumah niko, dimasakin ama ibunya, dan maen2 deh di sungai ampe kembung, nikmat banget dah,,, bawa mobil pulang pergi medan-tebing tinggi,, yg penting NGUMPULL!!

cma-b4

dipantai cermin waktu acara perpisahan kelas, bolos satu kelas buat sesi foto2,, disuruh pake baju hitam ehh aku salah bawa baju, jadi aja yg paling norak sendiri, ahhahah

menaaang

kembali lagi bermain bola,,,,

rme_rme

foto kelas 3 ipa 9,,,,

pertanyaan seputar makro ekonomi

1. jelaskan hubungan antara MEC dan MEI?

Jawab :

Marginal Efficiency of Capital (MEC) dan Marginal Efficiency of Investment (MEI):

Sama halnya dengan kurva permintaan akan investasi, kurva MEC secara nasional dapat diturunkan dengan menjumlahkan secara horizontal kurva MEC dari per¬usahaan yang ada dalam perekonomian. Misalnya. MEC akan sama besar dengan MEI pada tingkat bunga tertentu, di mana pembeIian barang modal hanya untuk menggantikan barang modal yang sudah tidak dapat dipakai lagi. Di tingkat perusahaan, syarat untuk memelihara keuntungan adalah dengan menjaga agar tingkat produksi tidak berkurang. Untuk itu stok barang modal tidak boleh berkurang. Dilihat dari sisi ini, investasi merupakan upaya memelihara stok barang modal (capital stock adjustment process). Besarnya investasi yang harus dilakukan untuk memelihara barang stok adalah senilai persentase penyusutan dikalikan stok barang modal yang diharapkan. Misalnya, nilai barang modal yang ha¬rus tersedia supaya perusahaan dapat mempertahankan tingkat produksi adalah Rp 10 miliar, sedangkan penyusutan adalah 10% per tahun, maka investasi per tahun adalah 10% x Rp 10 miliar = Rp I miliar. Jika perusahaan ingin meningkatkan keuntungan dengan cara meningkatkan kapasitas produksi, maka investasi yang dilakukan harus lebih besar daripada Rp 1 miliar, agar stok barang modal bisa menjadi lebih besar daripada Rp 10 miliar. Keputusan perusahaan untuk meningkatkan stok barang modal dapat memberikan dampak positif terhadap total perekonomian, sebab peningkatan stok barang modal secara nasional akan dapat meningkatkan kegiatan produksi dan juga dapat memperluas kesempatan kerja

2. Jelaskan pengertian MEI dan buat kurva hubungan MEC dan MEI?

Jawab :

MEI (Marginal Efficiency of Investment) adalah tingkat pengembalian investasi yang diharapkan dari setiap penambahan barang modal.
Untuk mempelajari pengeluaran investasi kita dapat menggunakan berbagai pendekatan seperti pendekatan nilai sekarang, MEC, atau pendekatan Neo-Klasik. Kurva MEC dan MEI merupakan dua kurva yang serupa dalam arti bahwa kedua-duanya dapat dipakai untuk mengamati perilaku investasi. Perbedaannya terletak pada penawaran kapital yang berlaku untuk MEC penawaran kapital tak terbatas dan biaya rata-rata tetap, sedangkan untuk MEI telah melibatkan pengaruh biaya rata-rata terhadap penawaran modal. Fungsi permintaan investasi merupakan fungsi yang menunjukkan hubungan antara suku bunga (r) dengan jumlah investasi dan fungsi ini dapat diturunkan dari kurva atau skedul MEC.
Teori investasi akselerasi bertumpu pada suatu ide sederhana bahwa perusahaan berusaha mempertahankan hubungan yang tetap antara stok kapital dengan penjualan yang diharapkan. Penerapan dari teori investasi akselerasi dan pendekatan yang lain, misalnya investasi pada persediaan dan perumahan yang kedua-duanya merupakan komponen permintaan agregat.
Teori investasi model Neo-Klasik berusaha menjelaskan permintaan stok kapital yang optimum dengan cara memaksimumkan nilai sekarang dari perusahaan dengan kendala fungsi produksi dan perubahan stok kapital per waktu.

3. apabila investasi yang di inginkan meningkat sebagai akibat turunnya tingkat bunga, maka harga investasi juga meningkat?
Jawab :
Tingkat suku bunga di ditentukan oleh tingkat suku bunga sertifikat bank sentral suatu Negara atau yang lebih diingat dengan BI-Rete, dapat kita pastikan akan berdampak negative terhadap iklim investasi di pasar modal. Biasanya para investor lebih cenderung untuk mengalihkan investasinya di pasar modal, hal ini berdampak juga terhadap kenaikan tingkat suku bunga deposito perbankan.
4. sebutkan beberapa hambatan pada investasi di Indonesia dan gambarkan tren investasi di Indonesia bagi PMA dan PMDN!
Jawab :
• penegakan hukum,
selama ini masih banyak dikeluhkan oleh para pemodal dalam dan luar negeri sehingga menimbulkan rasa ketidakpastioan dikalangan pengusaha.

• pajak dan pabean,
sejumlah pengusaha mengeluhkan bahwa sering terjadi tumpang tindih pemungutan pajak sehingga mengurangi daya saing produknya di luar negeri.

• infrastruktur,
Fasilitas infrastruktur jalan, listrik, dan air belum sepenuhnya mendukung, Tumpang tindihnya kewenangan instansi teknis dalam pengambilan kebijakan

• struktur perburuhan.
Jumlah tenaga kerja terdidik dan terpelajar masih sangat sulit di temui untuk sector buruh, akibatnya investor dalam dan luar negeri kesulitan untuk mencari tenaga ahli dalam mengoperasioanlkan setiap kegiatan industrinya.

Tren investasi di Indonesia:

P M D N /
Domestic Direct Investment
1 Jan – 31 Okt. 2006/
Jan 1 – Oct. 31, 2006

1 Jan – 31 Okt. 2007/
Jan 1 – Oct.. 31, 2007
RASIO / Ratio
( % )

P
(1)

I
(2)
P
(3)
I
(4)
P
( 3 : 1)
I
( 4 : 2 )

Proyek Baru / New Project
Proyek Perluasan / Expansion Project
Alih Status / Change of Status

TOTAL / Total

160
109

21

181
116.208,7
26.069,1

1.415,3

143.693,1

194
136

43

237
125.296,5
47.507,3

2.756,7

175.560,5

121,3
147,8

204,8

130,9

107,8
182,2

194,8

122,2

Rencana Penyerapan Tenaga Kerja / Manpower Absorption Planning
162.882
orang/persons
298.845
orang/persons
183,5

P M A /
Foreign Direct Investment

1 Jan – 31 Okt. 2006/
Jan 1 – Oct. 31, 2006

1 Jan – 31 Okt. 2007/
Jan 1 – Oct.. 31, 2007
RASIO / Ratio
( % )

P
(1)

I
(2)
P
(3)
I
(4)
P
( 3 : 1)
I
( 4 : 2 )

Proyek Baru / New Project
Proyek Perluasan / Expansion Project
Alih Status / Change of Status

TOTAL / Total

1.202
351

210

1.412

3.656,8
5.113,0

4.517,9

13.287,7

1.407
400

201

1.608

14.430,3
9.482,1

12.838,6

36.751,0
117,1
114,0

95,7

113,9

394,6
185,5

284,2

276,6

Rencana Penyerapan Tenaga Kerja / Manpower Absorption Planning
285.165
orang/persons
366.871
orang/persons
128,7

5. jelaskan tren investasi di sector telekomunikasi dan kendala serta pemecahannya!

Jawab :

• Tren investasi

sebagaimana kita ketahui industri moneter sedang berguncang, berbagai bank investasi tumbang, pasar saham mengalami penurunan indek, nilai tukar mata uang rupiah mulai menurun tajam; bagi beberapa orang mungkin pesimis terhadap prospek industri telekomunikasi di tahun 2009 atau tahun – tahun mendatang. Karena ada hubungan antara sektor keuangan dan investasi dengan sektor riil termasuk telekomunikasi, besar atau kecil, diperkirakan akan ada pengaruhnya terhadap sektor telekomunikasi khususnya. Jika pengaruhnya besar, maka prospeknya berpeluang untuk menyusut, sebaliknya jika pengaruhnys kecil, prospek telekomunikasi berpeluang cukup bagus.

factor pertama yang perlu diperhatikan, prospek industri atau sektor rill, tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi moneter atau sumber pendanaan yang akan diperlukan untuk perluasan investasi perluasan jaringan.

factor kedua, faktor permintaan pasar salah satu yang berpengaruh kuat. Jadi walaupun, katakanlah, karena pasar modal sedang lesu, sehingga kebutuhan investasi baru tidak dapat terpenuhi secara otptimal, namun karena orang masih perlu berkomunikasi, mendapatkan informasi, hal ini menunjukkan masih adanya potensi revenue, sekaligus pendapatan bagi operator telekomunikasi. Artinya investasi baru tertunda, namun revenue dari layanan masih dapat berjalan terus bahkan ditingkatkan. Jika pendapatan ini meningkat, pada akhir tahun dapat digunakan untuk membiayai sendiri investasi yang dibutuhkan.

Kondisi semacam ini pernah dialami oleh operator telekomunikasi ketika Indonesia menghadapi krisis moneter dan ekonomi di tahun 1998. ketika itu, sektor telekomunikasi – bisa jadi – merupakan satu-satunya sektor yang masih berdiri tegak sementara sektor lain loyo dan terpuruk.

Faktor ketiga yang akan menentukan apakah prospek sektor telekomunikasi cerah di tahun 2009 adalah regulasi. Sejauh mana Regulator terus menyempurnakan regulasi sehingga hambatan- hambatan berbisnis yang selama ini dihadapi oleh operator dapat diminimalkan. Jika regulasi, baik di tingkat pusat maupun di daerah – daerah, semakin tidak business friendly, maka hal ini menambah biaya bagi operator yang pada ujungnya akan mengurangi profitabilitas.

Faktor keempat yang juga dapat mempengaruhi prospek sektor telekomunikasi adalah tingkat persaingan. Pada saat ini tingkat persaingan sudah sedemikian sengit, operator saling banting harga yang membuahkan penurunan rata-rata pendapatan per pelanggan.

• Kendala dan pemecahan.

Pemerintah sebaiknya segera menyempurnakan kebijakan di bidang telekomunikasi yang tercermin dari sejauh mana Regulator terus menyempurnakan regulasi sehingga hambatan- hambatan berbisnis yang selama ini dihadapi oleh operator dapat diminimalkan. Jika regulasi, baik di tingkat pusat maupun di daerah – daerah, semakin tidak business friendly, maka hal ini menambah biaya bagi operator yang pada ujungnya akan mengurangi profitabilitas.

Selain menyempurnakan regulasi yang ada, sejalan dengan perkembangan teknologi, pemerintah perlu mengantisipasi perubahan layanan telekomunikasi yang memanfaatkan teknologi baru, sementara kebijakan dan regulasi yang ada belum dapat mengakomodasi pemanfaatan teknologi baru tersebut. Jika hal ini terus berlangsung, maka masyarakat akan dirugikan.

6. Dari kedua investasi ril dan portofolio, jelaskan prospek keduanya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja?

Jawab :
• Investasi portofolio
Investasi asing dalam bentuk portofolio aset masih deras mengalir ke pasar keuangan Indonesia. Hal ini terlihat dari kepemilikan surat utang negara oleh asing yang mencapai Rp 77,4 triliun dari jumlah SUN yang sebesar Rp 474,8 triliun. Selain itu, cadangan devisa di Bank Indonesia juga naik menjadi 54,9 miliar dollar AS.
Akibatnya, nilai tukar rupiah menguat hingga pertengahan tahun 2007, lalu turun tertimpa tingginya harga minyak. Nilai tukar rata-rata rupiah terhadap dollar AS hingga 5 Desember 2007 sebesar Rp 9.123 per dollar AS, sedikit membaik dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 9.172 per dollar AS.
• Investasi sector riil
Menyerap Banyak Tenaga Kerja
Properti adalah sektor riil yang mampu menyerap tenaga kerja yang besar. Bayangkan, dalam sebuah proyek perumahan skala 2 Ha, mampu menyerap tenaga kasar sampai dengan 300 orang. Bandingkan dengan sektor finansial? Berapa banyak yang bekerja? Berapa banyak yang diuntungkan?
Lebih dari 75% pembeli properti melalui kredit
Pengalaman menunjukkan bahwa lebih dari 75% pembeli produk properti menggunakan fasilitas kredit. Artinya perbankan diuntungkan karena bank dapat menyalurkan kredit dan mendapatkan keuntungan dari selisih bunga atau bagi hasil dalam sistem syariah.
Mengangkat sektor bisnis lainnya
Dalam membangun satu rumah, terdapat ribuan item material. Material rumah pokok adalah material alam seperti batu belah dan pasir, kemudian batu bata, semen, besi, genteng, cat, keramik, material listrik, perkayuan dan lain-lainnya. Setidaknya ada 9 item pokok dalam membangun satu unit rumah. Darimana material ini diperoleh? Dari supplier. Supplier dari Distributor. Distributor dari Pabrik. Begitu banyak rentetan lini bisnis yang berhubungan dengan properti bukan ?
7. jelaskan peranan kebijakan fiscal dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya investasi di Indonesia?

Jawab :
KEBIJAKAN fiskal pada dasarnya alat atau instrumen pemerintah yang sangat penting peranannya dalam sistem perekonomian. Instrumen fiskal itu berguna untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas basis kegiatan ekonomi berbagai sektor, dan secara khusus memperluas lapangan usaha untuk menurunkan tingkat pengangguran.
Dengan kebijakan fiskal, pemerintah dapat memanfaatkan sumber daya ekonomi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi yang dikehendakinya. Kebijakan fiskal juga sekaligus sebagai kesempatan emas untuk memberikan signal, baik bagi pelaku ekonomi, dunia usaha, investor, maupun yang lainnya.

Tugas 7 Pertanyaan Seputar Investasi
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah makro ekonomi

Oleh
Yoggy Pradita
106.401.399
2007-A

Institut Manajemen Telkom

EKONOMI INDONESIA PERIODE 2003-2006 DI BIDANG UKM

Dilihat selama periode 2003 – 2006, iklim investasi pada berbagai tingkatan skala usaha belum banyak berubah. Dalam kurun waktu tersebut, usaha kecil merupakan kelompok yang paling rendah investasinya, yakni rata-rata 20,1%, sedangkan usaha menengah 25,1%.
Dari sisi pertumbuhan juga tidak menggembirakan. Pada 2006 investasi usaha kecil hanya tumbuh 2,5%, dan usaha menengah 2,7%. Pertumbuhan paling cepat dimiliki perusahaan besar 3,1%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap sektor usaha kecil dan menengah masih belum optimal, khususnya akses terhadap sumber daya – baik pasar, teknologi, bahan baku maupun sumber daya manusia.
Bila ditelaah secara sektoral, usaha kecil memiliki keunggulan dalam bidang usaha yang memanfaatkan sumber daya alam, seperti pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan. Usaha kecil juga mempunyai dalam bidang usaha tersier, seperti perdagangan, hotel dan restoran.
Selama 2003-2006, sektor ini menciptakan nilai tambah di masing-masing bidang tersebut rata-rata 87,2% dan 75,5%.
Sebaliknya usaha besar memiliki keunggulan dalam pengolahan lanjutan produk primer, seperti manufaktur, listrik, gas dan air bersih, komunikasi serta sektor pertambangan dan galian.
Dua persoalan
Melihat problematika yang masih menghinggapi perekonomian Indonesia, maka strategi pengembangan UKM harus mampu menjawab dua persoalan pokok.
Pertama, menjadikan UKM sebagai sektor yang kompetitif sehingga pengembangannya perlu mempertajam pilihan pada sektor tertentu.
Bila ditelaah secara sektoral, usaha kecil memiliki keunggulan dalam bidang usaha yang memanfaatkan sumber daya alam, seperti pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan. Usaha kecil juga mempunyai dalam bidang usaha tersier, seperti perdagangan, hotel dan restoran.
Selama 2003-2006, sektor ini menciptakan nilai tambah di masing-masing bidang tersebut rata-rata 87,2% dan 75,5%. Sebaliknya usaha besar memiliki keunggulan dalam pengolahan lanjutan produk primer, seperti manufaktur, listrik, gas dan air bersih, komunikasi serta sektor pertambangan dan galian.
Kedua, upaya menjawab penciptaan lapangan kerja untuk menanggulangi kemiskinan. Tingkat signifikansi peran UKM dalam perekonomian dapat dilihat dari rasio jumlah unit usaha di luar sektor pertanian terhadap jumlah penduduk adalah 1:20.
Untuk Indonesia yang sebagian besar unit usahanya industri mikro dan jasa lain maka angka yang lebih tepat adalah 1 ; 6. Artinya, setiap 6 orang harus ditopang oleh satu usaha di luar pertanian, sehingga persoalan bekerja karena terpaksa dan beban ketergantungan sudah tak jadi penghalang penguatan daya saing.
Jumlah usaha kecil, menengah, dan besat (%)
Keterangan UK UM UB Jumlah
1997 39.704.661 (99,84) 60.449(0,15) 2.097 (0.01) 39.767.207 (100)
1998 36.761.689 (99,85) 51.889(0,14) 1,830(0.01) 36.815.408 (100)
2007 48.822.925 (99,76) 106.711 (0,22) 7.204 (0.02) 48.936.840 (100)
PDB (US$)
Keterangan UK UM UB Jumlah
1997 171.048 (40,45) 78,524 (17,41) 183.673 (42,17) 433.245
2002 176.002 (41,25) 72,132 (15,36) 178.606 (43,49) 416.740
2003-2006 (38,80) (15,96) (45,25) –
Ekspor nonmigas (Rp miliar)
Keterangan UK UM UB Jumlah
1997 – – – –
1998 14.921 (3,86) 105.929 (27,46) 264.914 (68,68) 385.765 (100)
2005 28.048 (5,15) 82.290 (15,12) 433,864 (79,72) 544.202 (100)
2006 30,304 (4,99) 91.896 (15,13) 485.198 (79,88) 607.397 (100)
Ekspor (US$ juta)
Keterangan UK UM UB Jumlah
1997 2.522 (4,7) 63.440
1998 3.646 (7,5) 48.848
2003-2006
Sumber: BPS, diolah 2007
KEBIJAKAN yang Lamban dan Salah
mesin penggerak ekonomi juga mulai bergeser dari konsumsi rumah tangga ke investasi dan ekspor. Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (gross fixed capital) tumbuh 14,98% pada kwartal 1 2005, dan ekspor tumbuh 13,39% pada periode yang sama. Demikian juga Foreign Direct Investment juga mulai positif. Semuanya kelihatan cantik dan memikat.
Potret ekonomi yang cantik tersebut sayangnya mulai tergoncang memasuki semester 2 tahun 2005. Kestabilan ekonomi makro pelan-pelan memburuk, dimana rupiah mulai terpuruk bahkan pernah sekitar Rp11.000 untuk tiap dolar AS dan indeks harga saham gabungan Jakarta juga sempat terpuruk hingga di bawah 1.000 pada Agustus 2005.
Inflasi meningkat diperkirakan mencapai sekitar 9% untuk tahun ini, serta cadangan devisa terkuras sekitar 6 miliar dolar AS, hingga pada September sudah merosot pada tingkat 31,18 miliar dolar AS. Demikian juga laju pertumbuhan ekonomi turun menjadi 5,5% pada kwartal 2 tahun 2005. Data-data tersebut menunjukkan adanya merosotnya kinerja ekonomi Indonesia.
Pemburukkan ekonomi Indonesia juga diperparah dengan current account (neraca perdagangan barang dan jasa) dan capital account (aliran dana luar negeri) yang defisit lagi. Dimana itu semua menunjukkan mulai adanya masalah yang serius dalam perekonomian Indonesia. Instabilitas ekonomi makro yang tidak dapat ditangani dengan baik dan cepat sudah mulai merambah pelan-pelan ke sektor riil, diantaranya dapat dilihat mulainya lagi penutupan perusahaan dan PHK yang dilakukan oleh dunia usaha.
Selain itu nonperforming loan (kredit bermasalah) perbankan yang mulai naik dari sekitar 4% menjadi sekitar 7%. Demikian juga kelangkaan BBM dan krisis listrik yang semakin serius membawa konsekuensi pada sektor riil.
Berbagai tanda-tanda tersebut rasanya familiar bagi kita. Pada awal krisis tahun 1997 kita juga mengalami hal yang hampir sama, dimana otoritas ekonomi pada saat itu juga tidak segera mengambil KEBIJAKAN dengan cepat dan tepat, sehingga akhirnya menyeret kita ke dalam krisis yang panjang. Pada saat ini ada kecenderungan yang sama, dimana otoritas ekonomi lamban dan tidak tepat dalam mengambil KEBIJAKANnya, dan bahkan masih menganggap permasalahan yang dihadapi tidak serius, beberapa pejabat bahkan menganggap tidak ada masalah serius yang dihadapi oleh Indonesia, state of denial, adalah sikap yang sangat berbahaya.
Selain itu presiden juga meluncurkan paket KEBIJAKAN ekonomi dalam bidang energi, yaitu rencana menaikkan harga BBM, sisi moneter dengan mendukung KEBIJAKAN BI, sisi fiskal dengan menjaga agar ABPN 2005 sustainable, manageable dan sehat, serta KEBIJAKAN untuk mendorong investasi. Sayangnya tidak ada yang baru dari paket KEBIJAKAN ekonomi tersebut, serta tidak jelas arah KEBIJAKAN ekonomi yang akan diambil oleh otoritas. Sehingga respon pasar dan masyarakat dingin-dingin saja.
Otoritas ekonomi sudah mengambil beberapa langkah KEBIJAKAN untuk mengatasi masalah ekonomi yang dihadapi oleh Indonesia. BI dan pemerintah sudah meluncurkan berbagai KEBIJAKAN. BI pada 30 Agustus 2005 mengambil langkah-langkah untuk meredam gejolak rupiah, diantaranya dengan meningkatkan BI rate, meningkatkan suku bunga penjaminan simpanan di bank, meningkatkan giro wajib minimum, dan juga beberapa KEBIJAKAN lainnya untuk membatasi ruang gerak permainan di pasar valas.
Selain itu presiden juga meluncurkan paket KEBIJAKAN ekonomi dalam bidang energi, yaitu rencana menaikkan harga BBM, sisi moneter dengan mendukung KEBIJAKAN BI, sisi fiskal dengan menjaga agar ABPN 2005 sustainable, manageable dan sehat, serta KEBIJAKAN untuk mendorong investasi. Sayangnya tidak ada yang baru dari paket KEBIJAKAN ekonomi tersebut, serta tidak jelas arah KEBIJAKAN ekonomi yang akan diambil oleh otoritas. Sehingga respon pasar dan masyarakat dingin-dingin saja.
Kurang kredibelnya paket KEBIJAKAN dari otoritas ekonomi tersebut dapat dipahami karena pertama, sudah cukup terlambat diluncurkan, sehingga kerusakkan ekonomi yang terjadi sudah mulai meluas sehingga dengan paket KEBIJAKAN yang diambil oleh otoritas tidak dapat mengatasi masalah yang dihadapi Indonesia.
KEBIJAKAN yang sifatnya hanya responsif tidak akan banyak gunanya lagi. Perlu perubahan paradigma dalam mendesign KEBIJAKAN ekonomi agar supaya antisipatif, sehingga permasalahan bisa dideteksi sebelum benar-benar muncul ke permukaan, agar dapat dicegah sejak dini.
Selain itu paket KEBIJAKAN tersebut juga tidak kredibel karena tidak dapat memberikan arah yang jelas dan juga konsisten mengenai apa saja KEBIJAKAN otoritas ekonomi mendatang. Ada berbagai KEBIJAKAN yang tidak konsisten dengan KEBIJAKAN-KEBIJAKAN sebelumnya, seperti dalam hal menggalakkan investasi, demikian juga tidak ada kejelasan apakah otoritas masih akan konsisten dengan sistem kurs mengambang dan devisa bebas, juga langkah-langkah kongkrit untuk menutup defisit APBN 2005 itu apa saja dan kapan akan dilaksanakan.
Itu adalah beberapa contoh saja yang menunjukkan kelemahan dari paket KEBIJAKAN tersebut, masih banyak pertanyaan dan permasalahan lainnya. Secara keseluruhan paket KEBIJAKAN tidak menunjukkan hal-hal yang baru yang dapat memberikan kepercayaan pada pasar dan masyarakat bahwa otoritas ekonomi akan mampu mengatasi permasalahan ekonomi dengan baik.
KEBIJAKAN ekonomi yang diambil, harus jelas arahnya, komprehensif, konsisten, antisipatif, jelas prioritasnya, terkoordinasi dengan baik, dan cukup detil, termasuk juga siapa yang bertanggung jawab, serta kapan akan dilaksanakan, agar kredibel dan dapat mengembalikan kepercayaan lagi.
KEADAAN EKONOMI NASIONAL DALAM KURVA
(OKT’ 2003 – OKT’ 2006)

OUTLOOK EKONOMI INDONESIA PERIODE 2007
Ditahun 2007 ekonomi Indonesia pada kuartal kedua menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi semakin kuat. Indikator makro yang positif, dapat dilihat dari Pertumbuhan Ekonomi pada kuartal II berkisar antara 6,0%-6,11%, angka tersebut lebih tinggi dibanding kuartal I tahun 2007 (5,98%) dan jauh di atas pertumbuhan kuartal II tahun 2006 (4,96%). Trend konsumsi masyarakat di kuartal II 2007 dibandingkan kuartal sebelumnya, menunjukkan peningkatan sebagaimana tercermin dari beberapa indikator seperti konsumsi listrik, penjualan kendaraan bermotor, dan penerimaan PPN dalam negeri dan PPN Impor.

Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2007 didukung pula oleh peningkatan kinerja investasi perbankan, serta pertumbuhan ekspor dan impor yang terus berlanjut. Total ekspor di bulan Juni 2007 tumbuh sebesar 16,0%. Sedangkan laju inflasi di bulan Juni sebesar 5,77%, relatif lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya (6,01%).

Hingga bulan Juni 2007, stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga, dengan kecenderungan apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Cadangan devisa terus meningkat terkait dengan surplus transaksi berjalan dan tetap tingginya arus modal masuk. Indikator-indikator makro yang positif tersebut didukung pula oleh perkembangan positif pasar modal dan posisi obligasi pemerintah yang masih tetap kuat sebagaimana ditunjukkan oleh yield curve obligasi pemerintah di bulan Mei dan Juni 2007 yang relatif stabil.

Sektor manufaktur tumbuh 5.4% pada semester I

Sektor manufaktur mengalami pertumbuhan sebesar 5.4% pada semester I dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Akan tetapi, angka tersebut dibawah target yang ditetapkan pemerintah.
pertumbuhan dipicu oleh sektor otomotif, mesin dan peralatan yang mengalami peningkatan sebesar 10.37% pada kuartal kedua dan 6.15% pada kuartal pertama.
Sektor manufaktur telah memberikan sumbangan 1,5% kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar yang mencapai 6,28% pada kuartal kedua tahun 2007.
• Pertumbuhan PDB kuartal I 2007 yang mencapai 6,0% yaitu lebih tinggi dari pertumbuhan kuartal I tahun 2006. Peningkatan tersebut didukung oleh meningkatnya konsumsi masyarakat, investasi, dan ekspor,
• Realisasi investasi meningkat sejak kuartal 3 tahun 2006 dan tumbuh 60,24% untuk PMDN serta tumbuh 14, 96% untuk PMA,
• Inflasi terkendali dimana sampai dengan kuartal I mencapai 1,91 persen sementara itu di bulan April mencapai 1,76 persen. Penurunan ini terkait dengan harga beras yang mulai menurun,
• Nilai tukar rupiah stabil dan menguat dikisaran Rp9.000/USD,
• BI rate turun menjadi 8,75% pada bulan Mei dan cadangan devisa RI mencapai angka tertinggi sebesar USD 50,3 miliar.
Overview Ekonomi Indonesia Periode 2008

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan meningkat menjadi 6% pada tahun 2007, dan 6.3% pada tahun 2008, Defisit anggaran dipatok pada angka 1,7% dari GDP. angka yang belum pernah dicapai sejak tahun 1990an.
Perkembangan Ekonomi Asia, di perkirakan mengalami penurunan suku bunga secara bertahap, kinerja expor yang menguat akhir-akhir ini, serta pulihnya industri manufaktur secara bertahap pada tahun 2007-2008, kemungkinan akan ikut mendorong perbaikan konsumsi, investasi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
inflasi diperkirakan sekitar 6% pada tahun ini dan tahun depan, karena stabilitas harga diperkirakan tidak akan menjadi ancaman pada tahun 2007-2008 seperti pada tahun 2006.
Indonesia masih akan menghadapi banyak tantangan. Perkiraan ekonomi diatas berasumsi bahwa pemerintah akan berusaha lebih keras untuk melaksanakan berbagai pembaruan struktural yang penting, dan pemerintah daerah akan bekerja lebih keras membelanjakan transfer dana dari pemerintah pusat di Jakarta untuk pembangunan infrastruktur daerah dan kebutuhan sektor sosial.
sepanjang 2003-2006 Indonesia telah menyusun agenda reformasi dengan baik, namun tidak dilaksanakan secara efektif. Hal tersebut menghalangi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi pada tingkatan yang lebih tinggi yang bisa menciptakan cukup lapangan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan. perhatian terhadap beberapa isu penting akan memperbaiki capaian ekonomi Indonesia.
Penyelesaian dan persetujuan Undang-Undang Investasi, dan paket reformasi perpajakan sangat penting. Penundaan yang berkepanjangan dan tidak adanya kejelasan mengenai pengaturan kelembagaan untuk investasi dan koordinasi di dalam pemerintahan telah mengurangi kredibilitas. Peningkatan investasi yang signifikan memerlukan kepastian hukum dan peraturan yang lebih jelas.

Masalah Ketenagakerjaan

Dalam masalah ketenagakerjaan, pemerintah perlu menciptakan pasar tenaga kerja yang lebih luwes, terutama dalam hal outsourcing dan perhitungan pesangon PHK.
Tantangan-tantangan ini membutuhkan pembaharuan dalam kapasitas pegawai pemerintahan di seluruh jajaran birokrasi. Selain itu karena Indonesia rentan terhadap bencana alam pemerintah harus memperkuat kemampuan mengelola dan mitigasi resiko bencana untuk mengurangi dampak yang bisa ditimbulkannya terhadap penduduk maupun ekonomi. Jika gagal menghadapi tantangan-tantangan tersebut berarti Indonesia tidak akan bisa mencapai pertumbuhan ekonomi diatas 6% yang dibutuhkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan.
Terhambatnya proses akselerasi pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir selain merupakan kendala bagi upaya-upaya pencapaian sasaran-sasaran lainnya seperti penanggulangan masalah pengangguran dan kemiskinan, sekaligus merupakan tantangan di masa datang untuk mewujudkannya. Dalam kerangka mewujudkan tantangan-tantangan inilah RAPBN 2007 disusun. Dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian domestik serta memperhatikan perkembangan lingkungan ekonomi global yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, maka pembangunan ekonomi Indonesia ke depan masih akan dihadapkan pada sejumlah tantangan yang harus disikapi secara serius dan sungguh-sungguh serta dengan langkah-langkah yang lebih nyata.

Beberapa tantangan dimaksud antara lain mencakup:

Pertama, memelihara dan memantapkan stabilitas ekonomi makro sebagai prasyarat bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Perhatian terhadap upaya menjaga dan memantapkan stabilitas ekonomi makro ini tetap dirasa penting, mengingat adanya potensi gejolak eksternal terkait dengan tingginya harga minyak dunia, dan ketidakseimbangan global (global imbalances) aliran likuiditas global jangka pendek, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi stabilitas moneter dan ketahanan fiskal dalam negeri. Upaya pemeliharaan dan pemantapan stabilitas ekonomi makro tersebut antara lain mencakup langkah-langkah mengatasi dampak gejolak ekonomi domestik dan global, seperti laju inflasi dan suku bunga yang masih relatif tinggi, serta memperkuat koordinasi dan efektifitas kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil.

Kedua, mendorong peningkatan akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan sumber-sumber pertumbuhan yang lebih berimbang, yaitu yang lebih bertumpu pada peran investasi dan ekspor non migas. Akselerasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, dan terjaganya stabilitas ekonomi makro, disertai dengan upaya pembenahan yang sungguh-sungguh pada sektor riil, pada gilirannya akan dapat mendorong peningkatan investasi.

Ketiga, menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dalam rangka menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan. Mengingat kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja masih terbatas, maka diperlukan strategi kebijakan yang tepat dengan menempatkan prioritas pada sektor-sektor yang mempunyai efek pengganda tinggi terhadap penciptaan kesempatan kerja.

Keempat, menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Penciptaan iklim investasi yang lebih kondusif ini merupakan salah satu tantangan yang cukup besar bagi pemerintah dewasa ini. Komitmen perbaikan iklim investasi tersebut telah mulai dilakukan pemerintah dengan diluncurkannya paket kebijakan investasi pada bulan Februari lalu, yang mencakup perbaikan di bidang peraturan perundang-undangan, pelayanan, dan penyederhanaan prosedur dan birokrasi.

Kelima, meningkatkan ketersediaan infrastruktur yang memadai dan berkualitas. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa ketersediaan infrastruktur yang memadai dan berkualitas merupakan prasyarat agar Indonesia dapat mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan, yang diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja. Beberapa survey yang dilakukan terhadap dunia usaha, mengidentifikasi bahwa kurangnya ketersediaan infrastruktur yang memadai merupakan kendala bagi masuknya investasi. Kurangnya pasokan energi listrik, keterbatasan jaringan telekomunikasi, serta kepadatan jalan telah menjadi persoalan mendasar bagi upaya peningkatan investasi dan daya saing ekspor non migas kita.

Keenam, meningkatkan daya saing ekspor. Pertumbuhan ekspor yang tinggi diperlukan selain untuk menopang pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan juga untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.

Ketujuh, meningkatkan partisipasi swasta. Mengingat terbatasnya sumber daya pemerintah dalam pembiayaan pembangunan, peningkatan partisipasi swasta melalui kemitraan antara pemerintah dengan swasta (public-private partnership) merupakan tantangan yang cukup penting, khususnya terkait pembiayaan investasi dalam penyediaan infrastruktur.

Kedelapan, membangun landasan yang semakin kuat untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di masa-masa mendatang.
Kendati volume perdagangan dunia diperkirakan menurun akibat perlambatan ekonomi global, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan peningkatan cadangan devisa nasional menjadi US$72,9 miliar pada akhir tahun 2008.
Pada 2008, pertumbuhan ekonomi dunia diperkiran melambat seiring penurunan volume perdagangan dunia. Akan tetapi, kinerja ekonomi domestik diperkirakan membaik karena dukungan konsumsi rumah tangga dan peningkatan investasi. Harga beberapa komoditas unggulan ekspor Indonesia, terutama karet, barang tambang, dan CPO, diperkirakan BI akan tetap tinggi sejalan dengan masih tingginya harga minyak internasional di level US$75 per barel dan permintaan dunia.
Penekanan pada pertumbuhan di bidang investasi dan ekspor dapat mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan. Penekanan ini berdasarkan membaiknya iklim investasi di indonesia di mata dunia. Sasaran pertumbuhan ekonomi yang diharapkan adalah pertumbuhan yang berkualitas yaitu pertumbuhan yang dapat mendistribusikan pendapatan dan lapangan pekerjaan.
Tantangan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2008
perekonomian Indonesia di tahun 2008 diprediksi akan menemui beberapa tantangan baik dari kondisi global/regional maupun kondisi dalam negeri sendiri. Tantangan tersebut antara lain yaitu perlambatan ekonomi regional maupun global, ketidakpastian harga minyak dan komoditi internasional serta ketidakstabilan pasar uang global. Dari dalam negeri, Indonesia menghadapi tantangan untuk dapat mengimplementasikan pembangunan infrastruktur dan memperbaiki iklim investasi untuk menarik modal ke dalam negeri.

Dengan berbagai kondisi di atas, sasaran pembangunan ekonomi 2008 akan diejawantahkan pemerintah ke dalam tolak ukur pencapaian yaitu sasaran sasaran makro ekonomi dan sasaran sektoral pemerintah 2008 (seperti terlihat pada gambar di atas). Indikator makro 2008 yang akan diupayakan yaitu antara lain pertumbuhan ekonomi tahun 2008 diproyeksikan berkisar pada angka 6,6% s/d 7,0% dan indikator ekonomi lainnya diharapkan dalam keadaan stabil, sedangkan sasaran sektoral antar lain yaitu pengangguran pada tahun 2008 diperkirakan dapat ditekan menjadi 8,0%-9,0% dan jumlah tingkat kemiskinan turun menjadi sekitar 15%-16,8%. Secara lengkap indikator dan sasaran ekonomi makro 2008 dapat dilihat pada tabel berikut :
INDIKATOR 2008 (%)
Pertumbuhan PDB (%) 6,6 – 7,0
Inflasi (%, y-o-y) 6,0 – 6,5
Nilai tukar Rupiah (Rp/USD) 9.100 – 9.400
SBI 3 bulan (%) 7,5 – 8,0
Harga Minyak internasional 57 – 60
Lifting minyak Indonesia 1,034 – 1,040

Untuk mendukung upaya pencapaian sasaran indikator makro, dibutuhkan kebijakan, baik fiskal oleh pemerintah maupun moneter oleh BI. Kedua kebijakan tersebut harus dikoordinasikan dan diharmonisasikan secara maksimal. Hal ini sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi makro terutama dalam menjaga indikator ekonomi inflasi, suku bunga dan nilai tukar rupiah. Sementara itu, kebijakan desentralisasi fiskal juga merupakan hal vital dalam mendukung pertumbuhan. Keserasian peraturan pusat dan daerah serta peningkatan pengelolaan APBD akan merangsang investasi untuk masuk ke daerah yang pada saatnya akan mendukung pertumbuhan secara agregat.

KEBIJKAN FISKAL DAN RAPBN 2008

Berdasarkan sasaran asumsi dasar ekonomi makro dalam kerangka ekonomi makro, maka orientasi kebijakan fiskal diarahkan dari fase konsolidasi menuju kepada fase stimulus fiskal. Hal ini terlihat dari perkembangan defisit APBN yang menuju trend kenaikan, namun defisit tetap dikonsolidasikan dalam batas-batas aman sesuai amanat Undang-undang yaitu tidak melebihi angka 3 persen. Hal terpenting dari fase stimulus yaitu kualitas dalam membelanjakan uang (quality of spending) sehingga tepat guna. Defisit pada akhir tahun 2007 dan 2008 diperkirakan akan mencapai lebih dari 1,5 persen dari PDB. Defisit APBN dipengaruhi dari kebijakan penerimaan dan kebijakan belanja negara. Besarnya defisit sampai dengan tahun 2007 dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Kebijakan fiskal dari sisi penerimaan yang akan ditempuh dalam tahun 2008 adalah mengupayakan peningkatan rasio perpajakan dari 13,4% di tahun 2007 menjadi 13,5% dari PDB di tahun 2008 serta mengoptimalkan penerimaan negara dari PNBP. Upaya-upaya yang dilakukan untuk itu antara lain yaitu :
• Perbaikan admistrasi dan pelayanan perpajakan,
• Penerapan pelaksanaan UU perpajakan yang baru,
• Ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan.
Di sisi belanja negara, pada tahun 2008 arah kebijakan belanja pemerintah pusat difokuskan untuk meningkatkan kualitas belanja negara meliputi :
• Perencanaan yang tepat,
• Eksekusi anggaran yang prudent,
• Penggunaan pada kebutuhan yang prioritas dan emergency, dan
• Pencatatan dan pelaporan yang rapi dan disiplin.
Sedangkan untuk belanja ke daerah, pemerintah akan melakukan konsolidasi defisit APBN dan APBD untuk lebih memantapkan desentralisai fiskal. Hal ini ditujukan untuk :
• Mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah, serta antar daerah;
• Meningkatkan kapasitas daerah dalam menggali potensi pendapatan asli daerah,
• Pengalihan secara bertahap dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang ditujukan untuk mendanai kegiatan yang sudah menajadi urusan daerah ke DAK, dan
• Menghapus hold harmless sehingga pada tahun 2008 tidak dialokasikan Dana Penyesuaian.
Untuk menutupi defisit APBN 2008 yang diperkirakan masih berada pada angka diatas 1 % dari PDB, maka pemerintah tetap mengutamakan strategi pembiayaan yang murah dan rendah resiko. Dalam tahun 2008, kebijakan pembiayaan masih diprioritaskan dari sumber-sumber dana dalam negeri yaitu
• Rekening pemerintah,
• Penerbitan SBN rupiah,
• Obligasi Ritel Indonesia (ORI),
• Surat Perbendaharaan Negara (SPN) jangka pendek,
• Surat Berharga Negara (SBN) syariah.
Sedangkan sumber pembiayaan dari luar negeri akan berasal dari pinjaman program dan proyek dan penerbitan SBN valas. Dari semua upaya pembiayaan yang ditempuh, pemerintah tetap berkomitmen untuk menurunkan ratio utang Indonesia terhadap PDB menjadi sebesar 35,2% thd PDB pada tahun 2008, sebagaimana yang telah diupayakan pemerintah sejauh ini.

Dalam pelaksanaan kebijakan fiskal, pemerintah akan dihadapkan pada risiko fiskal. Resiko tersebut antara lain yaitu :
• resiko perubahan asumsi,
• risiko belanja negara akibat adanya tekanan terhadap belanja negara khususnya terhadap risiko bencana alam,
• risiko akibat dari dukungan pemeritah untuk pembangunan infrastruktur, dan
• risiko utang.
Segala perhitungan dan angka-angka sasaran yang ditetapkan oleh pemerintah dalam uapaya mencapai sasaran pembangunan ekonomi di tahun 2008 merupakan angka-angka yang disusun dengan semangat kebersamaan dan optimisme, namun tetap dengan pertimbangan kondisi riil yang telah, sedang dan akan dihadapi. Kondisi krisis ekonomi yang pernah terjadi cukup memberikan pelajaran berharga untuk mengelola perekonomian Indonesia lebih baik lagi demi terwujudnya cita-cita nasional.

TUGAS METODOLOGI PENELITIAN PENGARUH FITUR-FITUR TERHADAP MINAT PENGGUNAAN KARTU IM3 DI INSTITUT MANAJEMEN TELKOM

DI SUSUN OLEH

Gilang Ramadhan 106.401.370
M.Zidni Ilman 106.401.380
Yoggy Pradita 106.401.399
Alvin Joner 106.401.454
Anggito Ardinansyah 106.401.456

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam era dewasa ini, telepon selular sebagai alat komunikasi mobile merupakan kebutuhan primer bagi setiap orang. Karena komunikasi merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sebagai penunjang kepentingan bisnis, rumah tangga, maupun pendidikan. Kebutuhan akan komunikasi sebagai penunjang kebutuhan pendidikan juga tidak dapat dielakan. Internet, pengiriman paket data, serta komunikasi langsung sudah menjadi kebutuhan primer dalam dunia pendidikan.
Dunia teknologi yang semakin canggih khususnya pengembangan teknologi dalam telekomunikasi membuat semakin banyak provider sebagai penyedia jaringan telekomunikasi semakin bersaing untuk membuat fitur-fitur yang semakin memudahkan konsumen dalam berkomunikasi langsung dengan harga yang ditawarkan sangat terjangkau.
IM3 sebagai salah satu provider yang ada di Indonesia menawarkan beberapa kelebihan dari fitur-fiturnya dengan harga yang terjangkau dan menjadikan mahasiswa dan pelajar sebagai target pasarnya. Fitur-fitur seperti GPRS, WAP, SMS, Voice/Telepon ditawarkan oleh IM3 mendukung mahasiswa maupun pelajaran didunia pendidikan. Karena dengan fitur-fitur tersebut mahasiswa dan pelajar sangat terbantu dalam dunia pendidikan seperti saat mengerjakan tugas yang membutuhkan akses internet langsung tanpa harus ke warung internet mahasiswa dan pelajar dapat menggunakan akses GPRS dan WAP dengan biaya yang terjangkau. IM3 adalah kartu GSM prabayar pilihan generasi muda yang trendi yang menyukai layanan SMS. Namun pada perkembangannya IM3 tidak ingin hanya dikenal sebagai provider yang unggul di dalam layanan sms saja. Baru – baru ini IM3 meluncurkan tarif baru untuk layanan telepon. IM3 meluncurkan kebijakan baru ini agar dapat lebih berkompetisi dengan provider – provider lainnya dalam rangka mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar lagi. Dan hal ini juga menjadi salah satu alasan banyak mahasiswa yang memakai IM3, karena dengan hal tersebut, semakin banyak pula mahasiswa yang menggunakan fitur – fitur yang disediakan oleh provider IM3.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas, dapat di identifikasikan beberapa masalah, yaitu:
1. Bagaimana fitur–fitur yang ditawarkan kartu IM3 dapat mempengaruhi minat konsumen di IM Telkom?
2. Fitur – fitur apa saja yang ditawarkan oleh IM3 untuk mendorong konsumen di IM Telkom? Alasannya?
3. Bagaimana tingkat kepuasan pengguna kartu IM3 di IM Telkom dalam menggunakan fitur – fitur yang ditawarkan kartu IM3?
4. Hambatan – hambatan yang dihadapi pengguna kartu IM3 dalam menggunakan fitur – fitur yang ditawarkan IM3 di IM Telkom?
5. Pengaruh fitur-fitur ditawarkan kartu IM3 dalam menunjang kebutuhan dalam dunia pendidikan bagi pengguna di IM Telkom?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui Bagaimana fitur–fitur yang ditawarkan kartu IM3 dapat mempengaruhi minat konsumen di IM Telkom
2. Mengetahui Fitur – fitur apa saja yang ditawarkan oleh IM3 untuk mendorong konsumen di IM Telkom
3. Mengetahui tingkat kepuasan pengguna kartu IM3 di IM Telkom dalam menggunakan fitur – fitur yang ditawarkan kartu IM3
4. Mengetahui Hambatan – hambatan yang dihadapi pengguna kartu IM3 dalam menggunakan fitur – fitur yang ditawarkan IM3 di IM Telkom
5. Mengetahui Pengaruh fitur-fitur ditawarkan kartu IM3 dalam menunjang kebutuhan dalam dunia pendidikan bagi pengguna di IM Telkom
1.4 FUNGSI PENELITIAN
Adapun fungsi dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi bidang akedemis
Memahami dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari mata kuliah metode penelitian.
2. Bagi lingkungan sekitar IM Telkom
Untuk mengetahui dan menambah informasi bagi kalangan lingkungan IM Telkom mengenai fitur-fitur IM3 yang ada sekarang ini.

1.5 LANDASAN TEORI
Defenisi penelitian
Menurut referensi yang diambil dari buku Uma Sekaran, penelitian adalah proses menemukan solusi masalah setelah melakukan study yang mendalam dan menganalisis faktor situasi.
Ciri – ciri penelitian
1. Sujuan jelas
sebuah penelitian harus memiliki tujuan yang jelas tentang apa yang
ingin mereka ketahui sebagai output dari penelitian mereka.
2. Ketepatan
Dalam penelitian juga dituntut ketepatan data, baik dalam pemilihan sumber data maupun dalam hasil dari penelitian tersebut.
3. Dapat di uji
Sebuah penelitian harus dapat diuji baik dalam uji validitas maupun uji realibilitas, agar hasil penelitian tersebut dapat dipercaya.
4. Dapat di tiru
Sebuah penelitian dapat ditiru oleh pihak lain dalam rangka penelitian yang dilakukan oleh pihak lain namun memiliki persamaan dengan kita.
5. Ketelitian dan keyakinan
Dalam melakukan penelitian, ketelitian adalah wajib hukumnya. Baik dalam pengolahan input data, maupun dalam pengolahan output data agar penelitian tersebut dapat berguna dengan baik.
6. Objectivitas
Dalam penelitian, tidak boleh hanya melihat dari satu sudut pandang saja, melainkan harus dari berbagai sudut pandang yang ada.

7. Dapat di generalisasikan
Akan lebih baik bila suatu penelitian dapat dipandang secara umum, tidak hanya dapat dipandang secara khusus saja.
Pengertian Minat
Pengertian minat menurut bahasa (Etimologi), ialah usaha dan kemauan untuk mempelajari (Learning) dan mencari sesuatu.
Secara (Terminologi), minat adalah keinginan, kesukaan dan kemauan terhadap sesuatu hal. Sedangkan menurut para ahli pengertian Minat adalah :
– Menurut Hilgar:
Minat adalah suatu proses yang tetap untuk memperhatikan dan menfokuskan diri pada sesuatu yang diminatinya dengan perasaan senang dan rasa puas (Hilgar & Slameto ; 1988 ; 59).
– Menurut Slameto:
Minat ialah kecenderungan yang tepat untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan (Slameto ; 1988 ; 59)
– Menurut Andi Maprare
Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pikiran tertentu. (Maprare & Slameto; 1988;62)
Sehingga pengertian minat secara keseluruhan dalam karya tulis ini ialah suatu proses pengembangan dalam mencampurkan seluruh kemampuan yang ada untuk mengarahkan individu kepada suatu pikiran tertentu.
Menurut Kotler , sebuah perusahaan selalu menjalankan keseluruhan bauran pemasaran (Marketing mix), yang meliputi unsur-unsur Product, Price, Place, dan Promotion, yaitu perusahaan harus mampu menciptakan dan atau menghasilkan produk maupun jasa yang baik dan bermutu, menetapkan harga yang menarik bagi konsumen, mendistribusikan produk tersebut sehingga dapat dijangkau oleh konsumen, serta harus dapat berkomunikasi dengan konsumen mereka.
Setelah konsumen menyadari adanya produk yang diiklankan, maka konsumen akan memasuki tahap Pembelajaran. Dimana dalam tahap ini konsumen akan dapat menggambarkan atau mengkondisikan serta mempelajari produk yang diiklankan. Kemudian semua informasi tentang produk tersebut akan diteruskan ke dalam sistem pengarsipan memori konsumen, lalu konsumen akan meranking informasi tentang produk dari sisi kepentingan, harga, kualitas, keistimewaan, dan lain-lain.
Dalam tahap Pembelajaran, ada dua faktor yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen, faktor-faktor tersebut yaitu :
1. Interpersonal
Dalam faktor internal konsumen (hubungan antar pribadi) ada tiga hal yang sangat berpengaruh yaitu :
a. Keluarga
b. Masyarakat
c. Budaya
2. Nonpersonal
Pengaruh non personal dapat juga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, diantaranya yaitu :
a. Waktu
b. Tempat
c. Lingkungan

Setelah melewati tahap Pembelajaran, maka konsumen dapat memutuskan apakah konsumen merasa suka atau tidak terhadap produk yang diiklankan.
Setelah menyukai produk yang diiklankan, konsumen kemudian akan mengevaluasi lagi, apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhannya atau tidak. Karena tentunya setiap konsumen memiliki kebutuhan, dan tujuan konsumen sebenarnya yaitu untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhannya tersebut. Dengan adanya iklan yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan konsumen, maka konsumen akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhannya, dan kemudian konsumen pun akan bertindak. Menurut Sutisna, sikap dan tanggapan yang akan diberikan oleh konsumen dapat digambarkan sebagai berikut:
Sikap dan tanggapan konsumen
Komponen Kognitif
Menyadari keberadaan produk dan dapat mempercayai iklan merek produk.

Komponen afektif
Evaluasi iklan merek produk dan timbulnya perasaan tertarik/minat terhadap produk.

Komponen konatif
Munculnya sikap positif terhadap produk.
8P manajemen jasa ( marketing mix service manajemen )
Dalam memasarkan jasa diperlukan perencanaan dan pelaksanaan yang terkoordinasi. Berikut adalah komponen dari marketing mix service management :
1. Product ( elemen produk )
Dalam penelitian ini meneliti fitur – fitur IM3 dan seberapa besar pengaruh fitur handphone terhadap minat pembelian oleh lingkungan sekitar IM Telkom.
2. process ( proses )
untuk menciptakan dan menyampaikan elemen produk kepada konsumen diperlukan proses marketing dan pengaplikasian yang efektif. Beberapa proses yang telah terstruktur dan system kerja yang terkontrol.
3. productivity and quality
Dalam penyampaian jasa dari sebuah perusahaan, promosi produk dan kualitas haruslah dilihat dari dua sisi mata uang yang sama. Peningkatan kualitas dari produk dapat meningkatkan nilai jual dari suatu produk tersebut bagi perusahaan penyedia provider telekomunikasi dan meningkatkan utilitas konsumen sesuai dengan harga yang dibayar oleh konsumen dari produk tersebut.
4. people ( konsumen )
Dalam penyampaian produk dari fitur IM3 tersebut di butuhkan interaksi langsung dengan konsumen. Konsumen dalam penelitian ini adalah lingkungan sekitar IM Telkom.
5. physical evidence ( bukti fisik )
Bukti fisik dapat meningkatkan kesan pelanggan terhadap kualitas dari suatu provider. yang termasuk dalam bukti fisik yaitu inventaris perusahaan IM3 tersebut seperti gedung, kendaraan, dan petunjuk lain yang terlihat yang dapat member bukti atas kualitas dari jasa perusahaan tersebut.
6. price and other user outlays ( harga dan jasa lainnya )
Untuk memperoleh utilitas yang diharapkan konsumen, perusahaan telah menetapkan harga dan komponen biaya untuk nilai melengkapi utilitas yang dibutuhkan oleh konsumen. Harga dan komponen tersebut harus dibayar oleh konsumen untuk menikmati jasa yang ditawarkan.
7. promotion and education ( promosi dan edukasi )
Dalam penyampaian promosi dan edukasi sebuah perusahaan harus menyediakan informasi dari suatu produk, memberikan kesan paksa kepada konsumen untuk memilih produk yang ditawarkan serta mendorong pelanggan untuk mengambil tindakan dalam satu waktu.
8. place and time ( tempat dan waktu )
Tempat dimana melakukan promosi.

1.6 STUDI LITERATUR FITUR
Fitur adalah keistimewaan ,segi, roman, roman, ciri-ciri.
FITUR-FITUR IM3
1. Sms (short message service) adalah layanan untuk pesan pendek. Pesan pendek itu bisa dikirim lewat telepon genggam ke telepon genggam lainnya. Di Indonesia, SMS cukup popular karena sistem telepon seluler di sana tidak mempunyai layanan e-mail seperti di Jepang.
2. Mms (multimedia message service) adalah jasa layanan pesan yang memfasilitasi para pengguna telepon selular untuk melalukan pertukaran pesan multimedia. MMS dapat dikatakan sebagai bentuk evolusi dari SMS atau Short Messaging Service, dimana pada layanan pesan tersebut terdapat transmisi jenis media tambahan yang meliputi teks, image, audio, animasi, videoklip atau kombinasi antar media-media tersebut.
3. GPRS (General Packet Radio Service) adalah suatu teknologi yang memungkinkan pengiriman dan penerimaan data lebih cepat jika dibandingkan dengan penggunaan teknologi Circuit Switch Data atau CSD. Sering disebut pula dengan teknologi 2,5G. Sistem GPRS dapat digunakan untuk transfer data (dalam bentuk paket data) yang berkaitan dengan e-mail, data gambar (MMS), dan penelusuran (browsing) internet. Layanan GPRS dipasang pada jenis ponsel tipe GSM dan IS-136, walaupun jaringan GPRS saat ini terpisah dari GSM.
4. 3G adalah singkatan dari istilah dalam bahasa Inggris: third-generation technology. Istilah ini umumnya digunakan mengacu kepada perkembangan teknologi telepon nirkabel (wireless).
5. Voice/Telepon,
6. WAP/Wireless Apliccation Protokol adalah standar internasional terbuka untuk aplikasi yang menggunakan komunikasi nirkabel. Tujuan utamanya untuk membangun aplikasi yang dapat mengakses internet dari telepon genggam atau PDA.
1.7 Rancangan Penelitian
Penelitian dapat dikategorikan ke dalam beberapa tipe, yaitu:
• Berdasarkan tujuannya penelitian ini termasuk pengujian hipotetis, yaitu studi yang biasanya dilakukan untuk menjelaskan suatu hubungan tertentu.
• Berdasarkan tipe penyelidikannya penelitian ini menggunakan metode korelasional, yaitu suatu metode yang dilakukan apabila penelitian bertujuan untuk menggambarkan variabel-variabel yang penting yang berhubungan dengan suatu masalah. Dalam hal ini peneliti ingin mendapatkan gambaran tentang hubungan antara pengaruh fitur-fitur IM3 terhadap minat penggunaan IM3 oleh mahasiswa IM TELKOM
• Berdasarkan horison waktunya termasuk dalam studi cross sectional, yaitu penelitian dilakukan dimana data hanya diambil satu kali, pada satu periode waktu, untuk menjawab pertanyaan penelitian atau hipotesis penelitian.

Berdasarkan studi setting termasuk noncontrived setting yaitu penelitian yang dilakukan dalam lingkungan yang normal, yang biasanya terjadi. Dalam penelitian ini peneliti tidak melakukan manipulasi (intervensi) apapun.
Hipotesis
Fitur IM3 sangat berpengaruh dalam menentukan keputusan membeli provider oleh lingkungan sekitar IM Telkom dan dipengaruhi juga oleh 2 faktor yaitu kebutuhan dan prestise.
1.8 VARIABEL PENELITIAN
Dalam Penelitian diatas, mengandung dua Variabel, yaitu :
1. Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen, baik secara positif maupun negatif. Jika terdapat variabel bebas, variabel terikat juga tersedia dan dengan setiap unit kenaikan dalam variabel bebas, terdapat pula kenaikan atau penurunan dalam variabel terikat. Dengan kata lain, varians variabel terikat ditentukan oleh variabel bebas (uma sekaran, 2006:116)
Variabel independen dalam penelitian diatas ialah fitur IM3 bagi lingkungan sekitar IM Telkom.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian diatas ialah minat lingkungan sekitar IM Telkom dalam penggunaan IM3.

1.8.1 PENGUKURAN
Untuk membuktikan kebenaran hipotesis dalam penelitian ini, maka metode pencarian data yg dipakai ialah dengan cara mencari data jumlah pengguna IM3 berdasarkan minat pemakaiannya, dengan melakukan wawancara atau pemberian questioner tentang pengaruh fitur-fitur IM3 dalam menunjang kebutuhan pembelajaran bagi mahasiswa IM TELKOM.

1.8.1 KERANGKA PIKIR PENELITIAN

Fitur –fitur

Gambar 1.8.1
Disini IM3 sebagai provider telepon selular yang memberikan fitur – fitur yag ssangat modern dan canggih yang dapat memudahakan pengguna IM3 berkomunikasi dan bagi pengguna provider lain atau pengguna ponsel baru akan tertarik untuk membeli kartu IM3 dengan adanya fitur – fitur yang terlihat seperti di gambar 3.4,disini minat membeli dibagi menjadi 2 karena kebutuhan dan juga karena gengsi atau prestise sesuai dengan status dan perkembangan zaman.

1.9 Desain Penelitian
 Tujuan Studi
Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis (Hipotesis Analisis).
Dengan adanya variabel bebas yaitu pembagian starterpack flexi gratis, juga variabel terikat yaitu minat pemakain kartu IM3 di lingkungan sekitar IMT. Penelitian ini akan menguji hubungan fitur – fitur pada kartu IM3 terhadap minat di lingkungan sekitar IMT untuk menggunakan IM3. Hal ini merupakan salah satu bagian promosi dari IM3 yang bertujuan untuk menarik pangsa pasar di lingkungan sekitar IMT.

 Jenis Investigasi
Jenis investigasi dalam penelitian ini bersifat Kausal yaitu mempunyai hubungan sebab akibat. Apakah variabel fitur –fitur yang ada di kartu IM3 dapat meningkatkan minat mahasiswa dan masyarakat Institut Manajemen Telkom untuk menggunakan IM3.
Pertanyaan studi Kausal:
 Apakah pengaruh fitur – fitur terhadap minat menggunakan kartu IM3 di IM Telkom?
 Tingkat Intervensi Penel
Tingkat intervensi penelitian ini yaitu Intervensi sedang. Karena kami tidak hanya meneliti dengan menyebarkan kuesioner tetapi kami juga merasakan menjadi pegguna kartu IM3 tersebut jadi kita juga merasakan efek baik buruk daripada fitur – fitur yang ada tersebut.
 Konteks Studi
Konteks Studi penelitian ini termasuk Non-Contived (tidak diatur). Karena data yang digunakan untuk penelitian ini bersifat natural dan tidak dimanipulasi. Kami hanya melihat tanggapan dari questioner yang disebarkan dan mengaitkannya dengan minat untuk menggunakan kartu IM3 dengan adanya fitur –fitur yang ada. Dan kelompok kami tidak ada memanipulasi data awal.
 Unit Analisis
Data yang kami kumpulkan berasal dari questioner yang dibagikan kepada objek penelitian. Sehingga bisa disimpulkan individu sebagai unit analisisnya.
 Horizon Waktu (Time Horizon)
Data yang kelompok kami kumpulkan hanya diambil dalam kurun waktu tertentu.dan tidak bersifat kelanjutan karena penelitian kelompok kami dilakukan hanya sekali saja. Maka bisa disimpulkan penelitian ini termasuk studi cross sectional.

BAB II
METODE PENELITIAN

2.1 RUANG LINGKUP PENELITIAN
Dalam penelitian ini kami membatasi lingkup agar tujuan dari penelitian ini tidak meluas. Batasan-batasan dalam lingkup penelitian ini adalah:
 Mahasiswa Institut Manajemen Telkom pengguna IM3
 Penilitian dilakukan di lingkungan sekitar Institut Manajemen Telkom
 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah fitur – fitur mempengaruhi minat menggunakan kartu IM3.

Metode Penilitian
Metode penelitian yang kita gunakan dalam penelitian ini adalah metode Hipotesis-Deduktif. Metode tersebut dijabarkan menjadi tujuh langkah, yaitu:
 Pengamatan
 Pengumpulan Informasi
 Perumusan Teori
 Penyusunan Hipotesis
 Pengumpulan data ilmiah lebih lanjut
 Analisis data
 Deduksi

2.2 Data dan Teknik Pengumpulan data
Dalam penelitian ini kami memiliki 2 data yang terdiri dari:
• Data Primer
Untuk mendapatkan data primer, kami sebagai peneliti menggunakan teknik eksplorasi lapangan dengan menyebarkan kuisioner kepada responden dimana dalam penelitian ini Mahasiswa dan masyarakat di sekitar Institut Manajemen Telkom sebagai respondennya.

• Data Sekunder
Untuk data sekunder, kami memperoleh dari sumber yang ada melalui library research yaitu dengan mengumpulkan data-data dari buku, internet dan literature-literatur yang berkaitan.
Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan penulis didalam mengumpulkan data adalah:
1. Pengamatan
Yaitu mengamati objek penelitian yang telah ditentukan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas megenai masalah yang diteliti.
2. Riset Lapangan
Yaitu cara mengumpulkan data melalui daftar pertanyaan dan penyebaran angket kepada para pelanggan yang menggunakan produk IM3 dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut diharapkan dapat diketahui reaksi dan pendapat mereka secara langsung, sehingga dapat memudahkan dalam mengkaji apa yang menjadi topik dalam penelitian ini.

2.3 Operasional Variabel
Variabel Dimensi Indikator Item Skala
Minat menggunakan kartu IM3 Fitur – fitur Tangibles
( Bukti Langsung ) Jumlah pelanggan bertambah
Ordinal
Ada/tidaknya keluhan dari pelanggan

Reliability
( Kehandalan ) 3G dan 3.5G

Ordinal
Transfer pulsa
i-Ring
i-Sms warna
i-Say
Call conference
Poin plus plus
Assurance
( Jaminan ) Adanya iklan promosi
Ordinal
Adanya hadiah yang ditawarkan
Responsiveness
( Daya Tanggap) Kecepatan respon terhadap keluhan pelanggan
interval
Inovasi produk
Emphaty
( Empati ) Costumer service
Ordinal
Ramahnya pelayanan
Sikap konsumen Suatu sikap yang diambil seseorang menyangkut kepastian apa akan menggunakan kartu IM3 atau tidak Kognitif Kesadaran akan keberadaan Kartu IM3 • Anda mengetahui IM3 dari media Ordinal
Kemampuan mempercayai isi dan maksud pesan iklan • Anda mempercayai fitur – fitur yang dtawarkan IM3 Ordinal
afektif Kemampuan mengingat pesan • Anda dapat mengingat isi pesan yang disampaikan melalui iklannya Ordinal
Minat terhadap produk • setelah melihat iklannya, Anda berminat terhadap kartu IM3 Ordinal
konatif Kecenderungan memilih produk • dengan adanya berbagai macam fitur – fitur anda berminat menggunakan IM3 Ordinal

2.4 Teknik Sampling dan Pengambilan Sampel
 Populasi
– Populasi adalah keseluruhan kelompok orang, kejadian, atau hal-hal yang menarik bagi peneliti untuk ditelaah.
– Populasi berarti keseluruhan unit atau individu dalam ruang lingkup yang ingin diteliti (Sugiarto, 2001:2).
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa dan masyarakat di sekitar Institut Manajemen Telkom.
 Sample
– Sample adalah proses memilih sejumlah unsur yang memadai dari populasi, sehingga dengan mempelajari sampel dam memahami karakteristik dari subjek sampel, peneliti dapat mengeneralisasi karakteristik unsur-unsur populasi.
– Sample adalah sebagian dari populasi yang ingin diteliti, yang ciri-ciri dan keberadaannya diharapkan mampu mewakili atau menggambarkan ciri-ciri dan keberadaan populasi yang sebenarnya (Sugiarto, 2001:4).
Pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling, karena mengingat jumlah popoulasi yang cukup banyak, maka akan diambil sample yang merupakan bagian dari populasi yang mempunyai karakteristik sama dengan populasi.

 Tingkat presisi dan keyakinan
Presisi adalah sejauh mana estimasi kita sesuai dengan karakteristik populasi, biasanya diestimasi berdasarkan besarnya sampel.
Sx = S
√ n – 1

S = standar deviasi dari sampel
n = ukuran sampel
Sx = standard error besarnya presisi sampel
Tingkat keyakinan adalah sejauh mana kita yakin bahwa estimasi kita terhadap populasi adalah benar.

2.5 Skala Pengukuran & Skala Instrument
 Skala pengukuran
Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal, yang membedakan subjek berdasarkan klasifikasi dan peringkat. Skala ini mengurutkan data dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi atau sebaliknya dengan interval yang tidak harus sama (Husein Umar, 2001:132).
 Skala Instrument
Skala instrument yang digunakan adalah skala likert. Menurut Kinnear (1998), skala Likert ini berhubungan dengan pernyataan tentang sikap seseorang terhadap sesuatu, misalnya setuju-tidak setuju, senang-tidak senang, dan baik-tidak baik. Responden diminta mengisi pernyataan dalam skala 4 titik yaitu : sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.

2.6 Operational variable
Definisi Operasional adalah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan atau ”mengubah konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan yang dapat diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain” (Young, dikutip oleh Koentjarangningrat, 1991;23) Penekanan pengertian definisi operasional ialah pada kata ” dapat diobservasi”. Apabila seorang peneliti melakukan suatu observasi terhadap suatu gejala atau objek, maka peneliti lain juga dapat melakukan hal yang sama, yaitu mengidentifikasi apa yang telah didefinisikan oleh peneliti pertama.
Operasionalisasi variabel bermanfaat untuk:
1. Mengidentifikasi kriteria yang dapat diobservasi yang sedang didefinisikan.
2. Menunjukkan bahwa suatu konsep atau objek mungkin mempunyai lebih dari satu definisi operasional.
3. Mengetahui bahwa definisi operasional bersifat unik daalam situasi dimana definisi tersebut harus digunakan.

2.7 Uji Validitas dan Reabilitas
 Uji Valitidas
Validitas mempunyai pengertian sebagai tingkat atau derajat ketepatan suatu instrument dalam mengukur objek yang ingin diukur (William G. Zikmund, 1991:265). Validitas menunjukkan ukuran yang benar-benar mengukur apa yang akan diukur. Jadi dapat dikatakan semakin tinggi validitas suatu alat tes, maka alat tersebut semakin mengena pada sasarannya, atau semakin menunjukkan apa yang seharusnya diukur.
Suatu tes dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila tes tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur sesuai dengan makna dan tujuan diadakannya tes tersebut. Jika peneliti menggunakan kuesioner didalam pengumpulan data maka item-item yang disusun pada kuesioer tersebut merupakan alat tes yang harus mengukur apa yang menjadi tujuan penelitian. Validitas dalam penelitian ini diukur berdasarkan korelasi item-total, yaitu konsistensi antara skor item dengan skor keseluruhan. Pengukuran menggunakan koefisien korelasi rank spearman dengan nilai minimal validitas adalah sebesar 0,3.

rs = 1- 6∑di2 ; jika tidak ada data kembar
n(n2-1)

∑R(x)R(y)-n((n+1)/2)²
rs =
[∑(R(x))²-n((n+1)/2)²] [∑(R(y))²-n((n+1)/2)²]; jika ada data kembar

(Sitepu,1995:41)

rs = Koefisien Korelasi Spearman Rank
d = Beda, selisih nilai variabel 1 dengan 2. Nilai d dapat dicari dengan mengurangi bilangan yang lebih besar dengan bilangan yang lebih kecil hasilnya akan dikuadratkan
n = Banyaknya subjek pemilik nilai

 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan untuk menunjukkan stabilitas dan konsistensi alat ukur dalam mengukur konsep.untuk menguji reliabilitas kuesioner, kami menggunakan Alpha Cronbach dengan nilai minimal reliabilitas sebesar 0,7.
r¬11 = k 1- ∑σ2b
k – 1 σ 2 t

r11 = reliabilitas instrumen
k = banyak butir varian
σ 2 t = varians total
∑σ 2b = jumlah varians butir

Rumus Varians :

Dimana :
σ² = Varians
n = Banyaknya responden
x = nilai skor yang dipilih (total nilai dari nomor-nomor butir pertanyaan)

2.8 Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan dua cara :
• Statistik Deskriptif
Metode statistik yang bertujuan untuk menggambarkan perilaku variable yang diamati berdasarkan data yang diperoleh. Pada cara ini data yang diperoleh dipasangkan, sehingga menjadi suatu pasangan data, dimana X menunjukkan variabel Pengaruh fitur – fitur kartu IM3 dan Y yang menunjukkan variabel Minat mahasiswa dan masyarakat di lingkungan sekitar IMT untuk menggunakan IM3.
• Statistik Inferensial
Metode statistik yang ditujukan untuk menguji hipotesis dan penarikan kesimpulan berdasarkan data sample. Dimana pada cara ini digunakan pengujian hipotesis yang dihitung dengan menggunakan perhitungan korelasi pangkat Spearman’s, karena peneliti menggunakan skala ordinal.
TABEL 3.1
INTERPRESTASI KOEFISIEN KORELASI
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0.00 – 0.199 Sangat Rendah
0.20 – 0.399 Rendah
0.40 – 0.599 Sedang
0.60 – 0.799 Kuat
0.80 – 1.000 Sangat Kuat
Sumber: Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis
Untuk Atribut responden dilakukan pengkodifikasian sesuai dengan kebutuhan pengelompokkan data, sedangkan item-item pernyataan yang terdapat dalam kuesioner ini menggunakan skala Likert untuk memberikan nilai pada setiap jawabannya. Skala Likert yang digunakan 4 angka penilain yaitu :
• Sangat Setuju (SS) = Skor 4
• Setuju (S) = Skor 3
• Tidak Setuju (TS) = Skor 2
• Sangat Tidak Setuju (STS) = Skor 1

Penghitungan Skor Total untuk masing-masing indikator adalah sebagai berikut :
Skor Total = (Jumlah responden yang menjawab Sangat Setuju x 4) + (Jumlah responden yang menjawab Setuju x 3) + (Jumlah responden yang menjawab Tidak Setuju x 2) + (Jumlah responden yang menjawab Sangat Tidak Setuju x 1).
Adapun skala untuk mengukur variabel fasilitas perpustakaan dapat dilihat dengan cara menggunakan garis kontinum (Ridwan : 2003), pada daerah mana Skor Total dari data seluruh pernyataan responden berada :
• Nilai untuk jawaban Sangat Tidak Setuju skor 1 untuk semua jawaban atas 60 responden adalah : 1 x 60 = 60
• Nilai untuk jawaban Tidak Setuju skor 2 untuk semua jawaban atas 60 responden adalah : 2 x 60 = 120
• Nilai untuk jawaban Setuju skor 3 untuk semua jawaban atas 60 responden adalah : 3 x 60 = 180
• Nilai untuk jawaban Sangat Setuju skor 4 untuk semua jawaban atas 60 responden adalah : 4 x 60 = 240

2.9 Pengujian Hipotesis
Dalam penelitian ini, digunakan hipotesis asosiatif. Hipotesis asosiatif menunjukkan dugaan tentang pengaruh antara dua variabel atau lebih. Jadi pengaruh dua variabel ini dinyatakan dengan korelasi positif dan hipotesis statistiknya ditentukan sebagai berikut :
Ho : fitur – fitur di kartu IM3 dapat meningkatkan minat mahasiswa dan masyarakat di lingkungan sekitar IMT untuk menggunakan IM3.
H1 : fitur – fitur di kartu IM3 tidak dapat meningkatkan minat mahasiswa dan masyarakat di lingkungan sekitar IMT untuk menggunakan IM3.
Kriteria penolakan dan penerimaan hipotesis adalah :
– jika rs hitung>rs teble, maka Ho ditolak dan H1 diterima
jika rs hitung<rs table, maka Ho diterima dan H1 ditolak
presentation1-copy

sebentuk curahan hati

perempuan yang kukenal
dari sebuah rasa
hingga rela hati sepenuhnya
untuk mencinta

cinta perempuan
adalah cinta yang pantas diselami
dan dicintai

perempuan
mampu memahami
walau berat untuk mengerti
tapi kekuatan itu sanggup
membelah hati
dan merasuki
belah bagiannya

isi hati perempuan
adalah kebahagian
memberi kehangatan di setiap pelukan
bak petunjuk arah dikala tersesat didalamnya
dan menjadi penolong di tengah padang gersang